DAFTAR NAMA PESERTA LOLOS SELEKSI GLADIMULA XXVIII MAPAGAMA

Berikut adalah Nama-nama peserta Gladimula XXVIII MAPAGAMA yang lolos seleksi

NO NAMA ASAL FAKULTAS NILAI
1 Muhammad Sidik A H MIPA 162
2 Muhammad Fadil ramadhan FIB 162
3 Thatit Jalu Putra FKT 153
4 Geysen Bahar Kurniawan SV Teknik 153
5 Adhikrita Arif P Teknik 153
6 Jafar Sadiq SV Teknik 153
7 Suci Nurjanah FIB 144
8 Aiesa Qonita Mar’ati FIB 144
9 Resti Ishak FIB 144
10 Billy Haryanto FEB 144
11 Dini Lutfiani FIB 144
12 Muji Raharjo SV Teknik 123
13 Gerardus Guntur Teknik 123
14 Irma Lelawati Teknik 123
15 Andika Putra Sejati SV FEB 114
16 Vincent Arya Diklatus MIPA 114
17 Radit Aria Sindu FEB 113
18 Evan Trison Hulu SV Teknik 111
19 Chairila Azka N Fisipol 109
20 Antonius Itoloha Gaho SV Kehutanan 102
21 Joko Firmanto SV Teknik 96
22 Rianto SV Teknik 96
23 Ichramsyah Fajar Hatta SV FEB 93
24 Irwan Hermawan FKU 93
25 Firsan Noviza Duanto SV Teknik 93
26 Yohanes Bangun SV Teknik 93
27 I Gusti Ngurah Putra P MIPA 93
28 Chika Panji Ardiyansyah SV Teknik 93
29 Muhammad Ulil Azmi Pertanian 84
30 Ahmad Farid Hukum 84
31 Nindi Mabruri Asnan Fisipol 84
32 Hani Khairina FKU 84
33 Gonzales Halim SV FEB 84
34 Setiani Permana Putra SV FEB 84

Memperngati 38 tahun berdirinya, mapagama adakan pameran fotografi

Suasana di ruang sidang II gelanggang mahasiswa UGM  malam itu tampak meriah , banyak orang yang sedang menunggu pembukaan pameran fotografi yang di adakan mapagama dalam rangka memperingati ulang tahun ke 38 nya malam itu. Pameran foto kegiatan mapagama selama 3 tahun terakhir dibuka oleh Pak Basuki perwakilan dari direktorat kemahasiswaan UGM.

Disamping mengadakan pameran fotografi, mapagama juga mengadakan  sarasehan fotografi alam bebas yang di laksanakan pada  30 september 2011, sarasehan yang menghadirkan dua fotografer Mapagama yaitu Dwi Oblo dan Pinto NH ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta. Dalam uraian singkatnya Dwi oblo dan Pinto NH saling memberikan tips dan trik bagaiamana mendapatkan sebuah gambar alam bebas yang baik serta bagaimana mengemas sebuah foto alam bebas untuk kepentingan jurnalistik.

Rangkaian kegiatan ulang tahun mapagama yang di laksanakan dari tanggal 28 september sampai dengan 2 oktober ini mengambil tema mengenai fotografi alam bebas, hal ini sejalan dengan salah satu visi mapagama yang juga ikut serta mempromosikan keindahan alam Indonesia melalui kegiatan alam bebas.

Ada 52 foto dalam pameran kali ini, selain kegiatan petualangan seperti mendaki gunung, penelusuran gua, panjat tebing dan arung jeram, ada juga foto mengenai pengabdian masyarakat yang di lakukan di sela sela petualangan yang di lakukan mapagama.

Foto-foto yang di pamerkan mewakili kegitan mapagama yang di lakukan dalam kurun waktu 3 tahu terkahir, antara lain foto kegiatan ekspedisi putri rinjani, rafting tour de java, ekspedisi rante Mario, the goodcaver mapagama gua jaran , pego dan bekah,serta sandboarding mapagama, dan banyak kegiatan lain.

Tak hanya foto dalam negeri, foto kegiatan pendakian gunung kyanji ri Nepal yang di lakukan oleh salah satu anggota mapagama pun ikut di pamerkan di pameran foto kali ini. “kegiatan ini kami lakukan dalam rangka memperingati ulang tahun mapagama yang ke 38, sekalian  memperlihatkan kegiatan yang di lakukan mapagama kepada khalayak ramai” ujar januar wida selaku ketua panitia di sela-sela pameran.

Ekspedisi Rante Mario, Latimojong Sulawesi Selatan

Ekspedisi Rante Mario, ya begitulah judul kegiatan kami kali ini. Kegiatan ini merupakan bagian dari pendidikan lanjut angkatan ke-XXVI Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada (MAPAGAMA) “Haystack”. Judul tersebut diambil berdasarkan nama tempat yang menjadi lokasi petualangan kami, yaitu pendakian ke Puncak rante Mario yang menjadi bagian dari Pegunungan Latimojong. Secara geografis Rante Mario masuk ke kecamatan Baraka, namun setelah adanya pemekaran wilayah Rante Mario masuk ke kecamatan Buntu Batu kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan. Tidak hanya Pendakian, rangkaian kegiatan ini juga terdiri atas Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang Juga merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan tinggi yang mengambil lokasi di Desa bebas rokok Bone-bone.

Diawali dengan perjalanan Jogja-Wonokramo dengan kereta api Sri Tanjung pada tanggal 12 Juli 2011, kami menyeberang dengan menggunakan KM Dempo dari Pelabuhan Tanjung Perak- Pelabuhan Makassar pada tanggal 16 Juli 2011. Pagi itu jarum jam tangan menunjukkan pukul 06.00 WITA, kami pun segera menuju sekretariat KORPALA (Korps Pencinta Alam) Universitas Hassanudin dengan menaiki sebuah ankutan yang dicarikan oleh dua orang kenalan di kapal yang merupakan anggota Mapala UVRI Makassar. Sesampainya disana kami disambut oleh Ade yang langsung mempertemukan kami dengan Baso selaku Ketua Umum KORPALA. Sambutan hangat dari teman-teman KORPALA membuat suasana menjadi seperti di sekretariat sendiri. Seorang anggota KORPALA bernama Nanang diutus untuk menjadi guide dalam kegiatan kami ini. Selain menjadi pendaping selama kami berkegiatan disana, Nanang juga sangat membantu dalam hal berkomunikasi dengan penduduk setempat yang belum bisa berbahasa Indonesia.

Cerita pun dimulai di hari ketiga terhitung semenjak kedatangan kami ke Makassaar, kami berangkat menuju kecamatan Baraka untuk mengurus perizinan dan memasang instalasi komunikasi. Tujuh jam bukan perjalanan yang singkat, mengingat kondisi yang harus kami hadapi. Coba bayangkan, Mobil Kijang kapsul yang kami tumpangi diisi oleh sepuluh orang dengan Sembilan tas carrier plus isinya yang tidak sedikit serta daypack dari tiap-tiap orang, hanya satu kata yang bisa menggambarkannya, sesak. Namun hal ini terbayar dengan pemandangan yang menemani di sepanjang perjalanan. Mulai dari sawah, tebing karst, perkampungan, hingga kuburan gantung. Hingga tak terasa mobil berhenti di depan kantor Polisi Sektor Kecamatan Baraka. Malam ini kami singgah di sekretariat sebuah KPA bernama Lembayung yang diketuai oleh Pak Dadang dan berlokasi di sebuah Sekolah Dasar.

Hari kelima, perjalanan dilanjutkan dari Kecamatan Baraka menuju Dusun Karangan yang merupakan desa terakhir menuju Puncak Rante Mario. Sebuah angkutan kota mengantarkan kami ke Kantor Camat dan Puskesmas Buntu Batu untuk keperluan perijinan. Di tengah perjalanan kami harus turun dari angkutan karena tidak kuat membawa barang-barang. Bahkan carrier-carrier yang kami ikat di atas mobil pun terjatuh hingga dua kali. Dikarenakan sedang ada perbaikan jalan yang tidak memungkinkan angkutan ini untuk lewat, selanjutnya akses menuju Dusun Karangan dapat kami jangkau dengan menggunakan mobil jenis Hardtop yang telah berjajar tidak jauh dari perbaikan  jalan. Sarana transportasi menuju desa ini memang lumayan susah, ditambah kendaraan yang hanya ada di hari senin dan kamis saja sesuai dengan hari pasar. Setelah istirahat siang kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Karangan, dan disinilah pengalaman tak terlupakan itu terjadi. Jalan menanjak dilalui dengan mudah oleh mobil jenis ini, namun kondisi mobil yang sudah tidak muda ini membuat kami harus memegangi atapnya dari dalam. Setelah naik turun bukit, melewati bebatuan dan genangan air, tiba-tiba mobil ini berhenti padahal Dusun Karangan masih belum tampak. Apa yang terjadi ? ternyata ban depan sebelah kiri mobil ini lepas dari tempatnya, sontak kami pun turun untuk melihat langsung. Dan benar saja, ban mobil lepas dari murnya ini benar-benar hal yang di luar kepala kami. Namun dengan santainya sopir hardtop ini mengambil peralatan otomotifnya dan berkata “ini sudah biasa terjadi”. Kami yang mendengar perkataan itu hanya bisa saling pandang keheranan sekaligus takjub. Setelah 20 menit dalam perbaikan, mobil siap melanjutkan perjalanan kembali. Kurang lebih pukul 15.00 WITA kami tiba di tempat tujuan, disambut warga yang menatap asing kepada kami. Dusun ini dihuni kurang lebih oleh seratus kepala keluarga dengan jumlah anak-anak yang tidak sedikit. Warga disini masih jarang yang bisa menggunakan bahasa Indonesia sehingga Pak Kadus-lah yang menjadi informan dan penghubung komunikasi selama disini.

Setelah bermalam di Karangan, keesokan paginya kami memulai pendakian ke Puncak Rante Mario. Inilah awal dari kegiatan yang telah lama kami rencanakan. Setibanya di Pos II kami mendirikan camp disana dan berencana melanjutkan pendakian keesokan paginya menuju Puncak Rante Mario lalu mendirikan camp di Pos 7. Hari ketiga pendakian kami mulai turun meninggalkan Latimojong menuju ke Karangan lagi. Kurang lebih pukul satu siang kami tiba di Desa Karangan, sulitnya mendapatkan transportasi membuat kami mengambil keputusan untuk kembali bermalam disini. Dengan dibantu Pak Kadus Karangan kami dijemput oleh sebuah Hardtop keesokan paginya. Hardtop ini pun tidak datang dengan sendirinya, Pak Kadus harus turun dan berjalan berkilo-kilo meter untuk mendapatkan mobil ini. Jarak sejauh itu hanya ditempuh Pak Kadus dalam satu jam saja, karena beliau sudah terbiasa naik-turun ke dusun bawah sana.

Kami mulai meninggalkan Karangan pukul 11.00 WITA menuju Desa Anginangin dimana desa ini adalah penghubung menuju Desa Bone-bone yang akan menjadi next destination. Hardtop yang kami tumpangi kali ini dapat dikatakan sempurna, perjalanan off-road pun terasa menyenangkan. Ditambah ketika mobil ini melewati sungai kecil yang membentang di depan kami dengan sukses, benar-benar menantang adrenalin. Namun, sedikit accident terjadi di tengah jalan, ban mobil selip di antara gundukan tanah yang tepat dalam posisi menanjak. Kami pun reflek melompat turun dari mobil dan membantu menahan ban mobildengan melempar batu ke arah ban belakang agar mobil tidak mundur. Sopir hardtop ini hanya memerlukan sedikit waktu sampai akhirnya berhasil melewati gundukan tanah dengan mulus. Tidak berapa lama setelah melanjutkan perjalanan, kami pun tiba di perbatasan yang tidak bisa lagi dilewati oleh kendaraan. Perjalanan off-road dengan hardtop pun berakhir, itu tandanya kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Setelah empat jam berjalan, kami pun tiba di Desa Bone-bone. Desa ini merupakan desa bebas rokok nomor satu di Indonesia. Keberhasilan penerapan larangan anti merokok ini dimotori oleh Pak Idris yang sekarang menjabat sebagai Kepala desa. Desa Bone-bone dipilih sebagai objek Penelitian dan Pengabdian tim kami demi melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menjadi acuan kegiatan. Rasa lelah setelah berjalan jauh hilang begitu saja ketika mendengar seorang Ibu yang kami sapa berkata “ini yang dari jogja itu ya ?? Sudah ditunggu oleh Pak Idris”. Ternyata rencana kedatangan yang telah kami beritahukan sejak lama ke Pak Idris, telah diketahui oleh warga Bone-bone. Selama disana kami tinggal dirumah Pak Idris dan istri yang sangat ramah dan kekeluargaan. Pak Idris mempunyai 4 orang anak perempuan yang masih kecil-kecil dan lucu, hal ini membuat kami betah dan merasa berada di tengah-tengah keluarga sendiri. Empat hari di Desa Bone-bone benar-benar kami manfaatkan untuk memaksimalkan penelitian dekkriptif mengenai desa bebas rokok ini. Penelitian ini kami lakukan lewat wawancara terhadap beberapa warga dari bermacam usia dan jenis kelamin secara tidak langsung.

Hari pertama di desa ini kami lewati dengan membagi tim jadi dua, tim satu mengurus perijinan ke SDN 159 yang nantinya akan menjadi sasaran pengabdian kami. Sedangkan tim yang satunya terdiri atas tim penelitian yang ikut terjun langsung membantu gotong royong bersih desa. Hari kedua, kami berkunjung ke ladang padi warga yang sedang panen. Mulai dari ani-ani hingga makan siang kami habiskan bersama warga di ladang. Walaupun terik matahari menyengat kulit namun sangat menyenangkan berada di tengah-tengah keramahan mereka hingga tidak terasa langit mulai senja, kami pun berpamitan untuk kembali ke rumah Pak Idris. Setelah beristirahat dan makan malam, kami briefing untuk pelaksanaan pengabdian besok pagi di SDN 159 Bone-bone. Inilah rangkaian terakhir dari kegiatan kali ini, sekaligus hari terakhir kami singgah disini. Pengabdian masyarakat yang akan kami lakukan berupa penyuluhan dan praktek sikat gigi dan cuci tangan yang benar.

Semangat tim untuk melaksanakan pengabdian mewarnai pagi yang cerah di Desa Bone-bone. Dalam pelaksanaan pengabdian, tim dibagi menjadi dua yaitu tim penyuluhan dan tim praktek sikat gigi&cuci tangan. Kesulitan yang kami hadapi adalah ketika berinteraksi dengan anak-anak kelas 1,2 dan 3 yang masih malu-malu dan belum bisa berbahasa Indonesia. Berbeda dengan anak-anak kelas 4,5,dan 6 yang lebih komunikatif dan lebih mudah diajak bekerja sama. Bukan hal yang mudah bagi kami untuk terjun langsung ke dunia anak-anak, namun berkat hari ini kami mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman baru melalui anak Bone-bone. Berat rasanya mengingat siang ini juga kami akan kembali ke Makassar.

Begitu kembali ke rumah Pak Idris, kami langsung bersiap dan packing sembari menantikan kedatangan truk sayur yang akan mengantar kami ke kota. Pukul 15.00 WITA truk yang ditunggu pun datang, kami segera menaikkan semua barang bawaan. Rasa sedih pun timbul ketika akan meninggalkan desa ramah tanpa asap rokok ini. Kepergian kami diantarkan oleh anak-anak kecil disana yang melambaikan tangan. Sungguh hari-hari yang sangat luar biasa dan tak akan pernah terlupakan. Perlahan truk pun semakin jauh meninggalkan Desa Bone-bone.

Hari-hari setelah selesainya semua rangkaian kegiatan, kami manfaatkan untuk mengelilingi kota Makassar sembari menunggu jadwal keberangkatan kapal. 29 Juli 2011 kami bertolak dari Makassar menuju Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Dengan menggunakan KM Sirimau, lima puluh jam kami habiskan bersama di tengah lautan. Selamat tinggal tanah Sulawesi, selamat tinggal kota Angin Mamirri. Terima kasih atas pelajaran, pengalaman, dan petualangan yang kami dapatkan. Sampai jumpa di petualangan selanjutnya, Viva MAPAGAMA so..so..so.. (Tanti)

Kartini Mapagama #2 ; Para penyibak kabut Gunung Pangrango

Berawal dari keinginan mengeksiskan kegiatan khusus wanita di Organisasi Kepecintalaman Mapagama, akhir April tahun kemarin Tim Kartini #1 Mapagama melakukan kegiatan Climbing di Lembah Kera, Malang. Kegiatan ini diadakan untuk memperingati Hari Kartini dan Hari Bumi. Sebelumnya, wanita Mapagama sudah sering melakukan ekspedisi putri, tetapi kegiatan itu kurang diekspos, sehingga muncullah ide untuk membuat kegiatan mandiri khusus wanita yang lebih berisi. Dan Alhamdulillah, tahun ini, kegiatan Kartini #2 dapat dilakukan lagi.

Tujuan tim Kartini#2 kali ini adalah pendakian ke Puncak Pangrango, Bogor. Ide ini bermula dari obrolan ringan cewek-cewek Mapa yang nongkrong di Aquarium (secretariat Mapagama-red). Kebetulan ada salah satu cewek yang sangat mengidolakan Soe Hoek Gie, sehingga dia ingin sekali makan coklat di Lembah Mandalawangi seperti adegan dalam film “Gie”. Akhirnya, teman-teman pun setuju dengan ide itu.

Segeralah, hasil dari obrolan ringan itu diworo-worokan ke cewek-cewek Mapa. Dan ternyata, tidak hanya wanita yang tertarik, pria pun ingin ikut perjalanan kami ke Pangrango. Alhasil, anggota yang berangkat meliputi 12 wanita dan 7 pria. Dua belas wanita tersebut ikut dalam manajemen tim.

Hasil dari rapat pertama, terpilihlah Laras “Ithenk” sebagai Kortim, Tanti sebagai Korlap, Incem sebagai Sekretaris, Cathi sebagai Bendahara, Ayu sebagai Transportasi, Viema sebagai Konsumsi, Iyut sebagai Dokumentasi, Uus sebagai Logistik, Yulia sebagai Komunikasi, Asa sebagai Surjin (yang akhirnya dia tidak bisa ikut karena tidak mendapat ijin), serta Bekti dan Laras “Srowot” sebagai Pembina.

Berbekal persiapan fisik dan mental yang matang, termasuk menjajakan roti untuk mengsubsidi biaya yang harus dikeluarkan, 11 cewek dan 7 cowok Mapa ditambah Yudhis, rekan dari panta rhei (mapala fakultas Filsafat UGM) berangkat dari Stasiun Lempuyangan pada hari Rabu,20 April 2011,pukul 17.00. Sebagian carrier diletakkan di bagasi atas dan yang sebagian lagi dimasukkan ke bawah kursi yang kita tempati, lalu kami bersembilan belas memulai perjalanan yang cukup memakan waktu untuk sampai ke Stasiun Pasar  Senen keesokan harinya.

Sampai disana, kami sudah disambut oleh beberapa teman Fadlih (MG’ers).  Ayu Salah Satu anggota tim Kartini datang belakangan karena ketinggalan kereta di awal perjalanan, maka kami menunggunya sembari ngobrol, ngemil, dan beristirahat, Perjalanan menuju Cibodas kami mulai setelah sarapan di sekitaran halte. Semua tas dan Carrier dimasukkan ke dalam bis, lalu kami berduapuluh bersama-sama memulai perjalanan. Harus berdiri di dalam bis menjadi kesempatan bagi kami untuk belajar solider dengan mereka yang berjuang keras menghabiskan banyak waktu untuk berproses menuju tempat tujuan.

Perjalanan menuju Cibodas berlangsung sekitar 4 jam. Pukul 09.00, kami tiba di Base Camp Green Ranger. Di sana sudah

berkumpul banyak  pendaki. Pendakian dimulai pukul 11.00 karena menunggu beberapa teman yang akan menemani kita dari

Haihata pencinta alam STEI Tazkya Bogor.

Setelah pemeriksaan simaksi,  kami pun memulai perjalanan melewati pintu gerbang Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Belum ada kira-kira 5 jam kami berjalan, ada beberapa anggota tim yang tertinggal di belakang. Akhirnya kami

putuskan untuk menunggunya sembari beristirahat sambil makan siang di salah satu pos pendakian yang kami lewati. Tak berapa lama kemudian,yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang, mereka langsung makan snack dengan lahapnya.

Langkah demi langkah kami tempuh sambil membawa carrier. Hujan, dingin, tidak menjadi penghalang perjalanan kami. Melewati air panas menjadi tujuan yang amat ditunggu-tunggu, karena cuaca yang dingin saat itu. Setelah itu kami berhenti

di salah satu pos, untuk sekedar minum dan beristirahat sejenak. Hari itu sudah gelap, bukan waktu yang tepat sebenarnya untuk melanjutkan perjalanan, tetapi karena kondisi medan yang tidak memungkinkan untuk ngecamp, akhirnya kami memutuskan

untuk melanjutkan perjalanan sampai Kandang Badak, tempat para pendaki biasa ngecamp.

Air yang menetes dari dedaunan, sinar matahari yang memancar di celah-celah pepohonan, dan tenda-tenda pendaki lainnya menjadi pemandangan di pagi yang cerah itu. Pendakian menuju Puncak Pangrango (3.019 m.dpl)  rencana dimulai kira-kira pukul 09.30. Tapi, terjadi sedikit trouble, dan kami pun harus melanjutkan perjalanan tanpa Ayu dan Viema.

Awal perjalanan yang menanjak, medan yang licin, serta kemampuan masing-masing anggota  yang berbeda mengakibatkan perjalanan kami terbagi menjadi 2 rombongan. Rombongan depan dengan Bang Ode (Lawalata IPB), Mbak Tika (Haihata Tazkia), sedangkan rombongan belakang dengan Bang Ocit. Kira-kira Pukul 16.00, rombongan depan sampai lebih dahulu di Puncak, dilanjutkan rombongan belakang.

Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh para Kartini, menggunakan kebaya dan jarik ala Kartini dan mengabadikan

momen itu di Mandalawangi ( padang Edelweis ). Jarak dari Puncak menuju Mandalawangi memang tidak cukup jauh,

hanya sekitar 5 menit saja. Sampai disana, banyak pendaki yang memandangi kami dengan ekspresi yang tampak heran dan

kagum,melihat wanita-wanita cantik berkostum kebaya berada di Puncak Pangrango. Pemandangan yang sangat jarang ditemui bukan? Sampai-sampai ada beberapa pendaki yang ingin berfoto bersama kami.

Beberapa kamera mulai dipasang di titik-titik strategis, dan kami pun mulai berpose. Bosan juga dengan hanya berpose,

akhirnya kortim mengusulkan agar kita membuat sebuah persembahan yang menarik yang nantinya akan dipertontonkan pada MG’ers lainnya. Maka, Incem pun menawarkan diri menjadi pembaca puisi “Mandalawangi- Pangrango” dan anggota yang lain memperagakan setiap baris yang terucap. Karena cuaca sudah mendung, maka kami pun segera packing.

Perjalanan turun menuju Kandang Badak  diselimuti oleh cuaca mendung. Sampai di Kandang Badak, kami

makan siang, sedangkan yang lain (khususnya yang tidak muncak) membereskan tenda. Setelah itu perjalanan turun kami

lanjutkan kembali. Medan yang licin dan berlumpur membuat perjalanan kami cukup lambat. Satu per satu dari kami banyak yang tergelincir dan jatuh. Walaupun begitu, semangat Kartini tidak serta merta hilang dari diri kami, meski langkah sudah semakin

berat tapi kami tetap gigih untuk terus berjalan menuju tempat tujuan. Dan akhirnya sampai juga di pos pemeriksaan simaksi pada pukul 21.00.

Sampai di Basecamp, Kortim segera memastikan semua anggota lengkap, dan Ayu segera mencari angkutan menuju daerah Sentul, Bogor, tempat kontrakan teman Mbak Tika, yang rencana akan menjadi tempat istirahat kita malam itu. Satu pickup untuk mengangkut carrier dan satu angkutan lagi untuk kami. Perjalanan ditempuh kurang lebih 2 jam. Selama perjalanan, hampir

semua orang tidur kecuali sopir dan Incem yang memang sengaja tidak tidur agar tidak muntah, namun akhirnya muntah juga di punggung Samid (orang yang duduk tepat di sebelahnya).

Hari terakhir di Bogor kami habiskan dengan bercanda dan mengobrol dengan teman-teman dari Tazkia. Sebagian yang lain,

bersiap packing sambil membersihkan dan menjemur beberapa barang yang basah. Evaluasi yang menjadi agenda wajib tiap kegiatan kami lakukan pada siang harinya.

Untuk menuju Stasiun Pasar Senen, kami harus dua kali naik KRL. Kereta tujuan Yogyakarta hanya ada pada pukul

21.00, sehingga kami harus menunggu di stasiun kurang lebih 2 jam. Waktu yang cukup luang ini, banyak dimanfaatkan anggota

tim untuk berfoto, mengobrol atau sekedar tidur sejenak. Ada juga yang berkenalan dengan beberapa anak penjual kipas dan

koran bekas yang biasa mangkal di stasiun. Sampai akhirnya, kereta kami datang dan kami pun bersiap pulang ke Yogyakarta.

Kebersamaan ini membangun kemandirian, solidaritas antar anggota, mengontrol emosi pada kondisi yang serba tidak pasti, menyiapkan mental dan fisik yang lebih dari biasanya. Aktualisasi diri akan tercipta pada kondisi seperti ini. Perempuan memperoleh sarana untuk menciptakan eksistensi diri dan mengekspresikan gagasan. (oleh Iyut Purbasari, editor Fahmy)

Masa Tua Masih Masa yang Berapi-api

‘Masa muda adalah masa yang berapi-api’ begitu kata sang raja dangdut, Rhoma Irama. Puncak kejayaan manusia adalah masa muda. Salah satu kejayaan yang bisa terlihat adalah dari kekuatan yang dimiliki. Terlahir sebagai bayi yang belum bisa berbuat banyak kemudian mulai merangkak, belajar berdiri, kemudian berlari. Kemudian masa muda, masa puncak untuk tenaga yang dimiliki, masa ini dikatakan masa yang berapi-api. Setelah lanjut usia menjadi sulit berjalan, respons yang tidak secepat saat muda, dan akhirnya kemampuan menurun, jika digambarkan sebagai kurva, kurvanya akan seperti gunung, naik setelah mencapai puncak akan kembali turun.

salah satu senior mapagama

Namun begitu, masa senja tak menurunkan keuletan, bisa jadi keuletan semanin menjadi-jadi! Tua-tua keladi, semakin tua semangat semakin menjadi. Mungkin itu yang pantas untuk pendakian semeru MAPAGAMA oleh para generasi pendiri sampai generasi yang terbaru. Umur boleh lebih tapi akan semakin muda semangat dan keuletannya. Pendakian ini dilengkapi dengan puncak mahameru. Dengan rambut yang tak lagi hitam, yang memberikan tanda bahwa orang sudah tak muda lagi.

Kembali saat-saat 20 tahun lalu, pendakian ini memang dalam suasana nostalgis dan family gathering oleh keluarga MAPAGAMA. Memang tekad sejak dari perencanaan adalah menjadi orang tertinggi seJawa. Dan memang seperti celoteh biasa, saat itu. Setelah sampai di Ranu kumbolo sempat terengah-engah, “wah delok-delok sesok lah, nek kesele mari yo munggah sak tekane”, begitu kata sebagian senior. Tapi memang semangat masa muda yang berapi-api, di pagi hari saat ranu kumbolo diselimuti kabut kami yang masih tertidur rapi (para muda-mudi_red) terganggu dengan guyonan mas-mas dan mbak-mbak senior.  Ternyata kelelahan kemarin sore telah hilang bersama kabut pagi ini, berganti dengan hangatnya sinar mentari, semangat 20 tahun lalu! Packing dan cek kelengkapan pun dilakukan, kemudian segera menatap tanjakan cinta yang konon katanya cinta akan langgeng jika berhasil melewati tanjakan ini tanpa menoleh. Ya, tapi sebenarnya betapa indah ranu kumbolo dari tanjakan cinta, mungkin yang menoleh akan lebih mencintai ranu kumbolo dari pada yang lain. Kemudian oro-oro ombo, kali mati, arca pada, dilalui dengan semangat. Padahal saat itu hujan mengguyur seharian, tapi tak melunturkan semangat kami (para sesepuh_red).

Hari berikutnya, dini hari mulai pendakian ke mahameru! Setelah subuh kami berada di 3676 mdpl, puncak tertinggi gunung seJawa, sesaat kami menjadi orang tertinggi seJawa. Alhamdulillah cuaca sangat cerah, tapi kami tak bisa berlama-lama di puncak karena angin sangat kencang dan sangat menambah dinginnya pagi itu. Setelah berfoto-foto kemudian kami turun dengan target langsung menuju ranupane. Sempat berhenti di ranu kumbolo untuk makan siang, senyum kami disini dsambut oleh pelangi di atas danau ranu kumbolo. Setelah itu perjalanan dilanjutkan sampai ranu pane, sore saat itu menjadi penayambut di basecamp ranu pane.

Kurva yang seperti gunung itu bukan untuk semangat dan keuletan, hal ini terbukti disini. Bahwa usia tak menurunkan semangat untuk perpetualang, masih sama dengan 20 tahun yang lalu. Ketika masa muda yang menjadi kekuatan untuk berpetualang pun dengan saat ini, walaupun masa muda sudah lewat 20 tahun yang lalu tapi tak akan surut jiwanya. “masa tua masih masa yang berapi-api” begitu kata para senior MAPAGAMA. (ysr)

foto oleh agus satriawan

Naik gunung bawa GPS, apa perlu?

ilustrasi

Iseng-iseng saya membuka buku elektronik tentang GPS yang baru saya unduh siang hari tadi, karena memang berhubungan dengan tugas akhir saya, sekarang ini saya banyak bergaul dengan alat untuk mencari informasi lokasi ini.

Dengan segala kemudahan yang di tawarkan,  Global position system (GPS) memudahkan para penggunanya untuk sekedar mengetahui lokasi dirinya saat itu juga, menunjukan arah kemana si pengguna akan berjalan, atau sekedar mencari nilai ketinggian dari tempat yang ingin di ketahui.

secara sederhana GPS bisa di katakan Kompas, Peta, dan protaktor dalam satu alat, system yang di kembangkan oleh departemen pertahanan amerika serikat ini mampu menapilkan informasi yang di tampilkan oleh peta, mampu menunjukan arah bak kompas, dan mampu menskalakan peta layaknya protaktor.

Teringat waktu saya gladimula (diklatsar) dulu, saya di ajari bagaimana ilmu untuk memanfaatkan peta dan kompas, populernya IMPK atau Ilmu medan peta dan kompas. Berbekal peta rupa bumi Indonesia, sebuah kompas type bidik serta protaktor plastik sederhana, saya di ajarkan bagaimana melakukan resection, intersection, countouring dan modify resection. Istilah-istilah tadi mungkin tidak asing bagi para pendaki gunung yang sudah pernah belajar tentang IMPK.

Saat itu kebanyakan rekan sekelompok saya masih awam untuk Ilmu semacam ini, bahkan ada pula yang baru mengetahui protaktor dan baru pertama kali memegang kompas, aplikasi ilmu IMPK yang saya dapat kala itu lebih banyak saya gunakan saat berkegiatan di gunung, tidak hanya untuk menentukan titik dimana saya berdiri dalam peta, melainkan untuk mengtahui tempat tepat harus mendirikan tenda.

Berbeda saat gladimula, ketika saya mendaki guung merapi di medio 2009, saya memasukan GPS pada daftar alat yang saya bawa dari jogja, kala itu GPS pinjaman teman sengaja saya bawa mendaki dengan tujuan menguji efektifitas penggunaan  GPS dengan IMPK konvensional, kala itu saya hanya perlu menekan beberapa tombol di GPS merk Garmin yang saya bawa untuk mengetahui lokasi dimana saya berdiri, jauh lebih cepat dari teman saya yang menggunakan metode resection untuk mengetahui lokasi saat itu.

Selain itu saya juga mencoba merekam jejak perjalanan dengan menggunakan menu yang ada, secara kontinyu alat ini merekam jejak perjalanan saya dan bisa saya saksikan di layar monokrom GPS bertipe etrek ini. Sepintas sama seperti saya menggambarkan garis jalur yang saya lalui dip eta, akan tetapi rekaman alat ini lebih enak di lihat dan bisa ubah skalanya sesuai kebutuhan.

Untuk masalah efisiensi dan efektifitas, GPS lebih unggul di banding denga IMPK biasa, akan tetapi masalah timbul kala itu, batterai GPS yang saya bawa ternyata tidak bisa bertahan lebih dari 2 hari, tepat di hari ketiga GPS yang saya bawa sudah tdak bisa di gunakan lagi karena habis batterai. Sedangkan teman saya masih bisa melakukan ploting lokasi di peta.

Dua contoh kasus yang saya alami di atas setidaknya meberikan perbandingan antara menggunkan GPS dengan menggunakan IMPK , GPS boleh unggul untuk segi efektifitas dan efisiensinya, akan tetapi IMPK juga menjad ilmu wajib bagi para pendaki gunung dengan segala resiko yang bisa timbul. Banyak kasus pendaki gunung yang disorientasi medan karena tidak menguasai ilmu ini.

Mendaki gunung dengan atau tanpa menggunakan GPS memang menjadi sebuah subjektifitas, ketika sudah bisa di gantikan dengan peta dan kompas, GPS sudah di rasa tidak perlu lagi. Akan tetapi menggunakan GPS juga bisa menghemat banyak waktu saat ploting lokasi serta banyak informasi tambahan yang bisa kita dapatkan dengan menggunakan GPS.

Menjadi seniman lewat Rigging

Mulut gua jaran terlihat memanjang di depan Saya, mungkin sekitar 5 sampai 10 meter mulut gua ini memanjang mengikuti aliran semacam sungai kering yang sudah tidak berair itu. Wah tingginya sekitar 10 meter nih, ungkap salah satu rekan rigging saya, enggar.

foto oleh Tulus Wichaksono

Langsung saja saya memulai menyiapkan rigging set ketika enggar kembali setelah melakukan survey anchor di ujung lorong sana. “piye nek dhewe nggago lorong negingsor wae?” usul dari pemuda asal bantul dengan logat jawanya. “yo wes, aku manut kowe wae mas” sahutku ketika sesaat sebelum memulai rigging.

Terus terang saya belum begtu percaya diri ketika memulai rigging dari lorong bawah ini, dari foto dan artikel internet yang saya baca, kebanyakan “caver” lain menggunakan mulut gua bagian atas untuk rigging, berbeda dengan tempat saya memasang anchor sekarang dimana saya harus memasuki sebuah celah yang hanya selebar satu langkah orang dewasa. Tentu saja ini sediit menyulitkan saya dan mas tulus yang sama-sama berbadan tambun.

Akan tetapi ketika melihat banyaknya lubang tembus dan beberapa batu tanduk di dalam, ketidak percaya dirian saya sedikit mengendur, “wah nek iki sih kepenak” kataku dalam hati. tidak lama saya berada di tempat ini, mungkin sekitar sepuluh menit, tentu dengan kewajiban membuat lintasan yang sudah selesai sampai pitch pertama tentunya.

Di tempat ini hanya ada cahaya dari atas sana, terlihat samar ketika kepala saya tertabrak oleh kelelawar penghuni luweng ini, mungkin itu cara mereka menyambut saya. Sedikit binggung ketika harus mencari jalan kearah mana saya harus melanjutkan membuat lintasan. Saya teringat obrolan dengan pak kadus kemarin ketika rombongan kami berkunjung ke rumahnya. “nek mpun dughi sumuran pertama, mangke ngiri mawon mas” . kalau sudah sampai dasar sumur pertama nanti kekiri saja mas, kurang lebih begitu kalau di bahasa indonesiakan.

Pilihanya saat itu hanya ada dua, kekiri atau kekanan saya, saya coba lepaskan tacke bag yang berat ini, dengan carrabiner snap saya masukan ke tali lintasan, dan segera saya melanjutkan perjalanan ke kanan, mecoba mengikuti intitusi saya yang ternyata salah hari itu. Benar saja, tidak ada apa-apa selain lorong kecil yang tentu saja badan saya pun tidak akan muat melewatinya. Alhasil beralihlah saya dengan mengambil arah berlawanan, ada dua lorong di depan saya, yang satu buntu yang satu kemungkinan ini lorong menuju pitch kedua di gua terpanjang di Indonesia ini.

Kembali saya mengulur tali karmantel dari tackle bag kuning ini, lepas dari lorong yang memuat saya harus merunduk, saya melihat sebuah chamber besar ukuranya saya perkirakan 15 meter lebarnya, dan panjangnya mungkin panjang sekali, hal ini Karena sinar dari headlamp saya tidak bisa melihat ujung dari lorong gua ini. “ asemik, guedhe buanget loronge, njuk headlampku rak tekan neh” itu yang saya ucapkan sesaat seltelah saya menyadiri ini lah ujung pitch pertama gua ini.

Berbeda dengan ketika saya membuatkan lintasan di lorong awal tadi, di pitch ini saya banyak menemukan lubang tembus, akan tetapi saya tidak menemukan lubang tembus yang letaknya tepat di ujung pitch seperti yang saya mau, setelah sedikit memutar otak, saya putuskan untuk menggunakan lubang tembus yang jaraknya paling dekat dengan ujung picth, konsekwensinya saya mengulur webbing panjang sampai menggantung dan menghindarii friksi dengan ujung pitch.

Saat sedang menggantung, saya teringat dengan tali karmantel yang saya bawa. “iki cukup po ora yo?”, saya membawa tali sepanjang 110 m, perkiraan saya sampai ujung pitch ini butuh paling tidak 30 meter. Saya mencoba berhitung dan memantapkan hati saya bahwa tali ini masih cukup sampai di bawah nanti. Suara yang timbul dar capstain simple saya memuat saya sedikit tegang, krek, krek, kreeekk, semakin panjang saya mengulur tali dari tacke bag, semakin panjang pula bunyi yang keluar. Saya  benci dengan situasi seperti ini, situasi dimana tingkat sentifitas saya terhadap bunyi-bunyian aneh sangat peka.

Kaki saya menapak di sebuah batu besar di dasar gua ini, terlihat dari tempat saya di ujung anchor sana sudah bersiap fadhlih, rekan satu tim rigging bersama saya, dan sontak saya berterikan “rope free” ketika tubuh saya sudah tak terkait dengan tali lintasan. Setidaknya sampai saat itu tugas saya menyediakan lintasan bagi rekan saya yang lain telah usai. Dan saat itu Saya teringat dengan perkataan salah seorang senior saya saat pertama kali harus rigging, “rigging itu seni, tiap orang punya caranya sendiri” (Fahmy)

Gelar kejuaraan canoe tingkat nasional, MAPAGAMA panen pujian.

Kerjuaraan kayak tingkat nasional dengan judul “indonesian canoe slalom training & competition open I” baru saja di gelar di kebun binatang Gembira Loka, Yogyakarta dari jumat sampai ahad (14-16 Jan) lalu. Di ikuti oleh tak kurang dari 45 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, kegiatan ini  melombakan olah raga canoe dalam 3 kategori lomba.

Sebelum di adakan lomba, peserta di adakan pelatihan bersama untuk olah raga yang baru pertama kali di lombakan di Asian games Guang zhou beberapa waktu yang lalu, dalam kesempatan kali ini, panitia berhasil mendatangkan pelatih berkewarganergaan Prancis, Pierrick Gosselin, Pelatih dari International Canoe Federation (ICF) untuk pengembangan canoe di Asia ini bersedia datang ke Yogyakarta untuk membagi ilmu nya.

“what a nice day…first time probably a Slalom traning camp is held in a  Zoo ! Big hands to Mulhendra”  tulis Pierrick di akun facebooknya jumat lalu.

Antusiasme  Tinggi

Banyaknya peserta yang hadir di acara ini membuktikan bahwa olahraga ini mulai di popular di kalangan masyarakat. Tidak hanya dari sekitaran Yogyakarta, peserta pelatihan pun ada yang datang dari Mapala Leuser Unsiyah Nanggroe Aceh Darusalam serta  MPA Loka Sammgraha STKIPN Singaraja Bali , selain itu puluhan peserta ada juga yang datang dari klub-klub dayung tingkat universitas. “ ada klub dayung dari UPI (universitas Pendidikan Indonesia), UNJ (universitas Negeri Jakarta ), dan Institut Sains dan Teknologi nasional Jakarta “ ujar Tanti andini salah satu panitia di bagian pendaftaran.

Selain dengan banyaknya jumlah peserta, kegiatan ini juga menarik perhatian dari penggunjung kebun binatang gembira loka, setidaknya setengah dari tiket yang di sediakan panita untuk menonton kejuaraan kali ini terjual.

“dengan di adakan kejuaraan ini  di tempat umum seperti kebun binatang, ini membuktikan bahwa olah raga canoe bisa menjadi olah raga yang menghibur bagi masyarakat umum”  tegas Fahmi salah satu pengunjung kebun binatang gembira loka

Berdasarkan pantauan di lapangan Memang banyak supporter yang sengaja datang ke gembira loka untuk mendukung jagoannya, setidaknya ada dari mahasiwa pencinta alam Psikologi UGM (PALAPSI) ada juga dari Mahasiswa Pencinta alam UNY MADAWIRNA dan beberapa Organisasi pencinta alam lain di sekitaran Yogyakarta.

Minim Kejutan

Ada Tambahan peserta di hari kejuaraan, setidaknya ada 50 peserta yang ikut ambil bagian dalam 3 kelas perlombaan, yaitu Kayak single Puta, Kayak Single Putri, dan Canoe double Putra , perlombaan tidak hanya terdiri dari jenis slalom saja, ada juga Head to Head yang menggunakan adu kecepatan dalam penilaianya.

Seperti sudah di ramalkan sebelumnya, tim-tim kuat dari bagian barat pulau jawa menjadi unggulan, setidaknya ada klub Boogie, Club Dayung UPI, Club Dayung UNJ serta Club dayung ISTN. Kemampuan dari klub-klub dari jawa bagian barat belum bisa di samai oleh klub lain, hal ini di buktikan dengan keluarnya Chandra D.N  (klub Boogie), Nirmala sera yuliniar (club Dayung UNJ) dan Hindra Yoga serta Rizal (Klub dayung UPI) yang masing-masing menjadi juara di kelas Kayak slalom putra, kayak slalom putri dan canoe double putra .

Sedangkan dua wakil dari daerah Yogyakarta berhasil menduduki peringkat kedua,salah satunya  yaitu aryati larasati dari Mahasiswa Pencinta alam universitas Gadjah mada (MAPAGAMA) untuk kategori kayak single putri slalom.

Hujan Pujian

Sebagai panitia penyelanggara kegiatan, Mahasiswa pencinta alam universitas gadjah mada mendapatkan pujian dari sejumlah pihak, Pierrick goselin memberikan apresisasinya untuk panitia “ iam appreciated to mulhendra and other committee, who held this competition” ujarnya ketika bertolak menuju bandara senin (17/1).

“ Keberhasilan terselenggaranya kegiatan ini tak lepas dari andil beberapa pihak, kami (panitia-red) mengucapkan terimakasih kepada Pengda PODSI DIY, Boogie, Pengurus Kebun Binatang Gembira loka, Sindikat kamar gelap dan Kisik river camp, untuk bantuannya “ ujar ketua panitia M. Hari Subarkah.

Indonesian Canoe Slalom Training and Competition Open I

I. Pendahuluan

Olah raga kayak slalom merupakan salah satu cabang olahraga yang sudah dipertandingkan pada Olimpiade. Pada Asian Games tahun 2010 olah raga kayak slalom sudah mulai dipertandingkan untuk pertama kali di Cina . Di Indonesia olahraga kayak slalom ini masih belum banyak peminat.

Dalam rangka mengembangkan olah raga kayak slalom dan menumbuhkan minat, sekaligus menjalin tali silahturahmi sesama penggiat olah raga dayung. maka diadakannya “ Indonesia Canoe Slalom Training & Competitions I OPEN” oleh MAPAGAMA.  Diharapkan dengan diadakannya pelatihan dan  kompetisi ini dapat mengenalkan olahraga slalom kepada penggiat olah raga dayung pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Selain juga bertujuan untuk menumbuhkan atlit-atlit di kalangan mahasiswa dan klub-klub yang ada di Indonesia yang dapat berprestasi di kancah nasional maupun internasional.

II. Panitia

Pelatihan dan kompetisi ini diadakan oleh MAPAGAMA

III. Pelatihan dan  Kompetisi

  • Pelatihan dan  Kompetisi: 14-16 Januari  2011 di danau buatan  dan Sungai Gajah Wong
  • Tempat : Kebun Binatang Gembiraloka, Jogjakarta
  • Deskripsi:

-       Panjang danau : 150 meter

-       Panjang sungai : 100 meter

-       Lebar sungai : 8 meter

IV. Kategori

-       Kayak slalom putra

-       Kayak slalom putri

-       Canoe 2 slalom inflatable putra

-       Canoe 2 slalom inflatable putri

-       Pengenalan kayak freestyle

V. Peraturan perlombaan

Mengacu  pada peraturan yang ditetapkan oleh ICF 2009

VI. Pendaftaran

- Biaya pendaftaran 200.000 rupiah /kategori

- Lomba Saja 100.000 rupiah

- Pendaftaran terakhir ditutup pada tanggal 12 Januari  2010

Peserta : pelajar, mahasiswa, klub dayung dan umum (Maksimal 10 peserta/ kategori), umur maksimal 25 tahun.

VII. Jadwal pelatihan dan kompetisi

Waktu Kegiatan Lokasi Kategori
Jumat

14 Januari 2011

10.00-11.30

Technical meeting Kebun binatang Gembira Loka Semua
13.00-17.00 Materi kelas Kebun Binatang Gembira Loka Semua
Sabtu

15 januari 2011

07.00-12.00

Materi pengenalan olahraga kayak slalom dan kayak freestyle Danau buatan Gembira Loka Semua
12.00-13.00 Ishoma Gembira Loka Semua
13.00-16.00 Materi pengenalan olahraga kayak slalom di arus Sungai Gajah Wong Semua
Minggu

16 januari 2011

07.30-09.30

Kompetisi

Kualifikasi dan final

Danau Gembira Loka K1 putra
09.45-11.45 Kompetisi

Kualifikasi dan final

Danau Gembira Loka K1 putri
11.45-12.45 Ishoma Gembira Loka Semua
12.45-15.00 Kompetisi

Kualifikasi dan final

Danau Gembira Loka C2 infalatable putri
15.00-17.00 Kompetisi

Kualifikasi dan final

Danau Gembira Loka C2 infalatable putra
17.00-18.00 Ishoma Gembira Loka Semua
18.00-20.00 Pengumuman hasil dan penyerahan hadiah Gembira Loka Semua

VIII. Akomodasi

o   Bib number (No dada)

o   Makan siang selama pelatihan dan kompetisi

o   Dokumentasi

o   Modul materi

o   Kaos

o   Sertifikat

IX. Peralatan

Semua peralatan disediakan oleh panitia, (Kayak, Perlampung, Dayung, Sprydek, Helm). Bagi peserta yang membawa peralatan sendiri harus memberitahukan ke panitia sewaktu Technical Meeting.

X. Kontak person

  • HENDRA: 081227972959
  • SHIDIK : 081227718065

Tergabung dalam GER, mapagama ikut bantu mengurusi 1300 pengungsi merapi.

Pasca peningkatan status gunung merapi dari waspada menjadi awas di tanggal 25 Oktober 2010, mahasiswa pecinta alam universitas gadjah mada (MAPAGAMA) tergabung dengan rekan-rekan aktivis gelanggang mahasiswa Ugm kedalam gelanggang emergency response ugm.

Gelanggang emergency response adalah sebuah wadah bagi para anggota unit kegiatan mahasiswa di lingkungan gelanggang mahasiswa UGM, termasuk mapagama di dalamnya. Selain terlibat langsung di lapangan, anggota Mapagama juga terlibat langsung dalam manajemen posko pengungsian yang memang di buka di gelanggang mahasiswa ugm dan gedung koesnadi hardjosoemantri (eks Purna Budaya).

Awalnya, posko GER hanya berorientasi pada distribusi batuan namun sesaat setelah peningkatan kawasan rawan bencana dari yang sebelumnya 10 KM menjadi 20 KM, gelanggang mahasiswa UGM di sulap menjadi tempat pengungsian. Setidaknya tiga tempat di gunakan pada awal pembentukan posko pengungsian, yaitu ruang siding 1, ruang sidang 2 dan ruang tari.

Lebih memilih management posko ketimbang evakuasi.

Berbeda dengan kebanyakan organisasi pecinta alam lain, mapagama lebih memilih ikut mengurusi sebuah posko pengungsian yang kebetulan ada di gelanggang mahasiswa di banding ikut membantu evakuasi korban seperti kebanyakan organisasi pecinta alam lain.

Karena ada pengungsi di gelanggang, kami lebih memilih ikut membantu posko di banding ikut evakuasi, di samping itu anggota kami bisa ikut terjun langsung mengurusi pengungsi. Ujar Uun ketua mapagama ketika di konfirmasi beberapa waktu lalu.

Setidaknya lebih dari 30 anggota aktif dan purna ikut membantu gelanggang emergency response, tambahnya.

Hal ini menjadi sebuah kegiatan yang baru bagi para anggota mapagama yang memang sebelumnya belum pernah terlibat langsung mengurusi pengungsi. 30 anggota mapagama tergabung dengan lebih dari 150 relawan lain tiap harinya membantu mengurusi pengungsi di gelanggang dan purna budaya.

Sebagian anggota mapagama pun menduduki beberapa posisi fungsional sebagai coordinator, hal ini menjadi bukti kapasitas manajerial dari anggota mapagama sudah baik.

Di dukung penuh oleh berbagai pihak

Keberhasilan gelanggang emergency response yang berhasil mengayomi 1300 pengungsi selama 3 minggu waktu di pengungsian semata-mata bukan hanya sukses satu pihak saja. Akan tetapi dukungan penuh dari banyak pihaklah yang membuat pelaksanaan kegiatan ini berjalan dengan lancer.

Seluruh komponen gelanggang mahasiswa seperti anggota UKM aktif, alumni gelanggang, jajaran pengurus gelanggang mahasiswa ikut membantu kelancaran acara ini, ucap Lara Shati coordinator Umum gelanggang emergency response yang juga menjabat sebagai sekretaris umum mapagama.

Tidak jauh berbeda dengan lara shati, aries dwi siswanto juga mengungkapkan senang bisa membatu sesama dan senang bisa belajar banyak hal dari kegiatan ini. Ujar anggota mapagama berambut gondrong ini.