RTDJ: Yang kecil bukan berarti mudah

Udara yang menusuk tulang di pagi hari membuat kami terbagun, terbangun dari tenda tempat kami bermalam semalam, rasanya sangat enggan unuk melepaskan sleeping bag yang rasanya sudah lengket menyelimuti tubuh kami, tapi paksaan bahwa hari ini adalah hari operasional pengarungan membuat kami harus menanggalkan sleeping bag dan bergegas untk bersiap melakukan pengarungan di siang hari nanti.

Tiga gelas kopi dan dua gelas susu yang di siapkan Laras (satu-satunya wanita di team kami) serasa hanya menunda dingin yang kami rasakan sesaat, akan tetapi itu sudah cukup untuk mengurangi dingin yang kami rasakan, di samping beberapa batang rokok filter yang kami hisap di pagi hari.

Kami telah siap dengan konstum kegiatan kami, sebuah pakaian khusus arung jeram dengan warna kuning  dominan di selingi warna hitam, layaknya lembang MAPAGAMA. Yang merupakan sumbangan dari salah satu senior kami yang juga owner dari perusahaan Biawak, salah satu penyedia produk-produk arung jeram.

Tepat ketika jam 09.30 wib, team melakukan scouting darat dan membuat sketsa jeram di 10 jeram terbaik di sungai ini, berbekal nformasi yang sudah di berikan oleh rekan kami disana (salah satu Operator peyedia jasa arung jeram). Dua jam dari waktu awal kami melakukan sketsa jeram, jeram terakhir selesai di skets oleh Yasser yaitu jeram blender, jeram yang akan sangat berkesan buat kami.

Setelah beristirahat untuk ibadah shalat jumat, “ibadah” kembali kami lanjutkan, sebuah perahu karet warna merah sudah di siapkan berserta kelengkapan lainya, trip pertama pengarungan kali ini di isi oleh 6 orang di perahu dan 4 orang rescuer darat.

Arus yang bergitu deras membuat sungai ini sangat cepat di arungi, beberapa jeram awal kami rasakan begitu cepat, tak selesai sampai di situ, kami di paksa berputar-putar di eddies yang membuat kami tersadar bahwa ini lah palayangan, sungai yang kecil bukan berarti mudah.

Dominasi drop-dropan dengan penampang sungai yang  hanya seukuran satu perahu menjadikan sungai ini berbeda dengan sungai  progo yang kami  kami arungi untuk latihan.

Cerita kami tambah berkesan ketika sampai pada trip pengarungan kedua, setelah berganti personel, pengarungan kami lanjutkan. Kali ini kami melewati jeram dengan lebih lancar, berbeda dengan trip pertama tadi, sampai akhirnya kami tiba di jeram blender dengan posisi masuk membelakangi jeram (ini karena manuver kami  kurang mantap tentunya), dan benar saja, perahu kami terbalik di jeram ini, jeram yang setiap hari kami lihat karena berada dekat sekali dengan tenda kami.

Seluruh penumpang perahu jatuh, dan dengan sigap para rescuer meolongi satu persatu dari mereka, dan sekali lagi “yang kecil bukan berarti mudah”(fahmy)

RTDJ: Welcome Palayangan

Mendengar kata Palayangan, mungkin untuk penggemar arung jeram, sungai ini kalah tenar di banding dengan sungai-sungai lain di jawa barat layaknya Citatih dan Citarik.

Sungai dengan panjang lintasan arung jeram sejauh 4 km ini berada di kecamatan palayangan, sebuah kecamatan di kabupaten Bandung.  Setidaknya kami menghabiskan waktu lebih dari 2 jam perjalanan dari pusat kota bandung untuk menuju kesana. Tentu saja dengan menggunakan angkutan umum jenis bus kota.

Jalanan khas daerah pegunungan yang berkelok-kelok di selingi dengan pemandangan yang cukup menyejukan mata menemani perjalanan kami, berbeda ketika kami mengijakan kaki pertama kali di kota ini setelah turun dari kereta kahuripan di awal pagi tadi.

Berbekal saran dari kenalan di kereta, kami memutuskan untuk mengganti rute perjalanan kami menuju “arena bermain” kami, yang sebelumnya turun di stasiun kiaracondong menjadi turun di stasiun besar kota bandung atau lebih popular dengan nama stasiun hall.

Sampailah kami di pangalengan tepat ketika matahari berada si atas kepala, walaupun jarum jam menunjukan angka 12, cuaca di sini tidak terasa seperti  layaknya cuaca panas di siang hari. Maklumlah, tempat kami berada sekerang berada di sekitaran ketinggian  1000mdpl.

Dari tempat ini kami melanjutkan perjalana dengan menggunkan mobil carteran seharga 35 ribu menuju situ cileunca, situ atau sebuah waduk dalam bahasa indonesianya, dan ternyata sungai yang akan kami arungi merupakan sebuah sungai  yang sumber  airnya  bersumber dari situ ini.

Sungai ini membelah hutan pinus dan perkebunan teh, dan ini lah yang membuat sungai ini menjadi lebih menarik untuk kami, di samping karakteristik sungai yang berbeda total dengan sungai di jogja, layaknya progo dan ello.

Bergegas kami mendirikan tenda di di dekat sungai, di bawah empat pohon pinus yang serasa menjadi sebuah tiang pancang untuk tenda kami. Derasnya air membuat jeram di dekat tenda kami serasa memanggil kami untuk segera “beribadah” esok hari.

Dan di tempat ini lah kami akan menghabiskan tiga malam berikutnya, dalam sebuah bagian kecil dari sebuah perjalanan panjang, ya, ini lah “Rafting tour de java”..(fahmy)

saat pulang dari Lombok.

sabtu, 25 Juli 2009

saLah satu yang menurutku paLing menyenangkan dari senaru adalah ketika pagi hari..

matahari yang memang sedikit terLambat datang menembus ceLah kaca, menerobos uap air tipis yang mengambang di udara pagi pegunungan dengan ketinggian 1000-an mdpl dan sedkit membahakehangatan, tak ayal romansa pagi hari di Lombok menjadi sedikit berwarna merah muda. Entah sudah berapa waktu LaLu Lombok menjadi bagian dari cara yang harus ku piLih untuk bangun dari tidur. Suasana yang sedikit copy paste dengan kebanyakan base camp gunung di Jawa memang bisa meLarutkan waktu dengan buLir pagi hingga kembaLi petang dengan senja yang kembaLi merah muda.

Senaru, tempat yang teLah beberapa hari teakhir ku titipkan badan membuat skenario pagi yang sama, yah.. membuat pagi sepertinya memang harus diteruskan hingga kembaLi petang ditempat itu,

Tidak.. hari ini waktu yang teLah ditentukan untuk kembaLi menuju Mataram, paLing tidak untuk Lebih kembaLi beraktivitas sedikit normaL dengan terbangun oleh suasana corwded, akrab Lagi dengan rush hour dan warung kopi hingga Larut maLam..

Tepat jam setengah tujuh pagi saat aku pamit dengan tim Eks-Putri (Ekspedisi Putri maksudku, sedikit perubahan nama untuk mendramatisir cerita..) untuk turun ke mataram dengan mas fian, petugas BTN Rinjani yang juga senior UGM yang berencana mudik ke Bima via Mataram, bareng juga dengan teman dari GrahapaLa Rinjani Universitas Mataram, Edi dan Ambem yang belakangan ku ketahui bernama samsuL hady. Lombok utara yang baru genap berusia setahun kami Lintasi dengan memacu kuda besi, hamparan Ladang, jembatan, pemukiman, Ladang Lagi, tanah kosong tak terurus, Ladang Lagi,pemukiman Lagi, kota kecamatan,barisan bibir pantai yang berganti dengan pemukiman sebeLum bertemu Lagi-Lagi dengan hamparan Ladang. Genap satu jam waktu yang di habiskan kuda besi kami untuk menghampiri ibukota kabupatenyang baru bermodaL kantor bupati dan UPT dinas LokaL berupa puskesmas, kembaLi Lagi Ladang dan sawah berganitian dengan pemukiman sebelum kami masuk lombok tengah dan pemandangan yang sama sebelum kami harus menambah konsetrasi ketika meLewati Pusuk Senggigi, hutan lindung yang terkenaL dengan ‘tanjakan super tahan napas, tahan gas, super banyak monyet, dan ttentu saja super tahan lapar’.

Tak terLaLu detail bentuk jaLan yang kami LaLui setelah Pusuk, karena perhatianku sendiri terah teraLih dengan suasana sub urban yang muLai memakan rakus kepeduLian sosiaLku. Yah.. memang tak terLaLu Lama waktu yang diLewatkan untuk sampai di UNRAM,

“kota..” bisikku pada waktu yang memang kurasa hanya sedikit menegaskan perbedaan suasana tanah merah yang ku injak tiga jam LaLu dengan sekarang.

Pagi yang sama di GPR, mungkin teLah dijeLaskan daLam cerita perjaLanan sebeLum ini, sambutan sederhana aLa mapaLa, dan beberapa basa-basi penghabis waktu hingga kopi buatan Nurli harus kami Lewati sebeLum jam 14.00 Wita tepat yang memang kami rencanakan untuk mencoba peruntungan ke Pasar Sindu untuk berburu beberapa barang-barang.

Memang hanya Kain yang kudapat seteLah beberapa kios pasar ku datangi, tapi sebenarnya Lebih dapi pada itu yang kudapat di saLah satu pusat aktifitas di daerah Cakranegara itu, selain udara kotor dan warung rokok eceran tentunya. Aku dapat Lebih beberapa memori yang memang harus aku simpan daLam harddisk untuk mengantisipasi bocornya informasi tentang Lombok di memoryku beberapa tahun ke depan ketika aku harus bercerita tentang Lombok dan bunteLan aktifitas di daLamnya.

Jam 17.00 WITA saat aku teLah kembaLi Lagi ke UNRAM, dengan segera Kopi khas Nurli menyambut kami (aku dan bang Fian), mungkinhanya 10 menit bang Fian pamit utuk mengejar rentetan kapaL feri penyebrangan menujuBima yang menurutnya menyerupai tupai-tupai di kebun kopi yang saling melompat mirip fiLm buatan Walt Disney yang masih memegang Oscar Award terbanyak (oh Tuhan.. aq Lupa juduL dan nama tokohnya).

Catur dengan singkat menawariku tumpangan menuju PeLabuhan Lembar yang memang aku tunggu-tunggu dan Langsung aq iyakan tanpa basa-basi (entah sudah berpa tahun penyakit ini ku derita, basa-basi yang seLaLu menyerang akut ketika kebaikan seseorang seperti paLu godam yang harus aq hajarkan Lagi ke kepaLa orang yang memberiku kebaikan), motor catur mungkin satu-satunyamotor dengan pLat nomor poLisi jawa yang ku temui di Lombok, tetapi itu bukanLah masaLah ketika kami berdua meLewati jaLanan sempit nan Lenggang dengan warnaudara khas senja seperti di awaL cerita pagiini (maaf aq maLas untuk kembaLi mendramatisir cerita dan suasana di daLamnya). Dibonceng ketua GPR (Lebih enak untuk disebutkan) seperti gambaran perjaLanan ketika aku menemui tempat baru dan di dampingi guide LokaL dengan bahasa khas persuasif Banyuwangi-nya, “mataram itu..bla..bla..bla..”, kata catur diseLingi kata , “djancuk, sundeL dan sumpret” yang bercampur seoLah berangkai bagai kata sambung yang wajib ada untuk satu baris kaLimat.

Magrib dan suara adzan menghampiri Lekat daun telIngaku saat kapal fery yang kutumpangi muLai berjaLan dengan warna senja yang telah gelap dan memudar pekat. “sumpret..tempat ini menyenangkan”, bisikku peLan sembari meLambai pada Catur yang masih berdiri tegap dengan styLe khas mapaLa yang memang dia piLih di ujung peLabuhan, dia yang masih menikmati rokok terakhirnya yang memang teLah kami habiskan berdua sepanjang berjalanan terLihat masih rajin menunggu geLap di tempat itu (walaupun memang sudah geLap adanya).

Penyebrangan Lombok baLi adaLah bagian penting dari cerita ini, 5 jam perjaLanan Laut dengan akses geLombang laut dan goyangan kapaL besar berbau soLar dan Lengket garam. Mungkin hanya sekitar 10 penumpang yang ada di paLka kapaL Lantai dua itu. keLuarga ayah ibu dan tiga anaknya duduk tepat Lesehan di depanku, sang anak paling kecil muLai mabuk Laut saat fery baru berjaLan 10 menit, suara beL kapaL, bau soLar, derungan mesin dan goyangan geLombang laut muLai bercampur aduk dan menmbuat si anak itu muntah untuk kaLi kedua. (huh..hal yang kutakutkan terjadi padaku).

Lombok yang seperti trapesium hijau tanpa sudut dari jauh terLihat makin keciL, SMD (slide memory dispLay) menyerangku, sawah, Ladang tembakau Lombok timur, senyuman khas orang sasak, pLang masuk kawasan taman nasionaL, jaLan pemuda Mataram, cidomo dengan kuda putih yang kelelahan berlari, bau khas brem pendam senaru, masjid bayan beLe’ kala sore hari, pos PHPA sembaLun, sekretariat UNRAM, merokok sore hari di sembaLun, gambaran-gambaran berjajar bagai sLide kuLiah yang rapi. Tapi 5 jam menurutku waktu yang Lebih dari cukup untuk menata memori dan membuatnya Lebih rapi dan ku compress dengan ukuran yang lebih sederhana agar dapat kusimpan dalam waktu yang lama, terus kutata memori agar lebih menyeeruai slide perpisahan khas malam keakraban kampus sembari kuhisap rokok yangmemang harus ada dalam sebuah cerita perjaLanan yang ku buat.

Minggu, 26 Juli 2009

Jam 12 maLam aq sampai di peLabuhan padang bay setengah sadar seteLah keLeLahan menghabiskan energi untuk memuat cerita dan kenangan daLam ingatan. Gerimis datang dan menambah suasana semakin mendayu-dayu (baru kaLi ini aq merasa sedikit Lebih meLayu dari pada orang melayu itu sendiri).

Hampir satu jam aq duduk untuk menunggu kendaraan yang bisa ku tumpangi, kantuk yang dari tadi kutahan-tahan memuncak, sempat terLeLap sebentar saat minibus yang mnemang kutunggu menghampiri tempat dudukku yang memamg di pinggir jaLan. “ubung berapa pak?”, tanyaku. “60 mas, cuma tinggaL angkot satu ini aja” jawabnya sedikit mengancam dengan Logat jawa yang mengagetkanku. Tawaranku untuk harga yang Lebih murah seLaLu mentah, mungkin memang karena skiLL menawarku yang dibawah rata-rata. Mini bus itu hanya terisi aku dan seorang penumpang bapak-bapak 50 tahunan yang mengenakan peci putih dan jaket kuLit dan teLah terLeLap di pojok belakang mini bus, tepat jam setengah empat pagi ketika aku turun di terminal ubung dan sebeLum masuk aq ditawari naik truk untuk menyebrang hingga ketapang yang Langsung ku iyakan. perjaLanan meLintasi baLi memang tak bisa untuk banyak kuceritakan karena kantuk memaksa mataku untuk tertutup.

Jam 06.30 WIB ketika aq sampai di Ketapang dan walaupun aku tau sudah teLambat untuk mengejar kereta sritanjung tetap ku coba untuk berLari keciL, dan benar aq terLambat. Sembari makan dipelataran stasiun ketapan aq berpikir dankembali menghitung uang yang kupunya untuk pulang, “memang harus naik sritanjung”, pikirku. Kuputuskan untuk menginap di stasiun ini satu maLam, sebeLum magrip aq diusir karena memang tidak diperbolehkan untuk menginap disitu,

Dipinggir jaLan besar Banyuwangi-Rogojampi kurebahkan badanku maLam itu berbantaL day pack, cukup sepi dan hangat karena memang ketinggian tempat yang memang hanya beberapa meter diatas permukaan laut, beberpaka kaLi aq terbangun di maLam itu seteLah dingin maLam dan uap basah menerpa wajahku yangkututupi kain yang kubeLi di Pasar Sindu.

Senin, 27 Juli 09

Jam 5 pagi aku sudah sampai di stasiun ketika kuputuskan untuk naik kereta ekonomi Banyuwangi-Jember, kereta ini membawaku menuju jember dalam waktu 3 jam. Cukup waktu untuk ku yang memang harus berhenti di stasiun jember, tempat dimana aku harus menyerahkan Laptop yang kubawa dari jogja pada kawanku yang KKN di jember, sekitar satu jam aq menunggu sritanjung menghampiri. Jam 09.15 WIB, sritanjung datang dan kuseLesaikan perjaLananku di Lempuyangan jam 22.15 WIB. (Enggar)

Melirik Jeram Gemblung Sungai Opak


Awal bulan Maret 2006, hujan turun sangat deras mengguyur kota Jogjakarta  hingga mengakibatkan banjir di beberapa ruas sungai. Salah satunya Sungai Opak. Satu hal yang menarik dari fenomena alam ini adalah, munculnya bentukan jeram yang tidak kalah menarik dengan jeram-jeram yang terdapat di sungai Progo. Berbekal semangat untuk mencoba foam inflate hasil karya Bengkel Rekayasa Teknik, Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada melirik keberadaan sungai Opak, khususnya Jeram Gemblung sebagai arena uji coba sekaligus meningkatkan kemampuan pengarungan sungai arus deras. Pengarungan dilakukan dengan menggunakan  foam inflatable kapasitas 2 orang lengkap dengan standart operasional proccedure SOP. Pengarungan hanya dilakukan di Jeram Gemblung sepanjang 100meter dengan beda ketinggian 3-4 meter.

Pengarungan di jeram Gemblung dapat di arungi dengan beberapa jenis perahu. Tergantung dari debit air pada saat pengarungan. Di musim penghujan ketika debit air besar, pengarungan dapat di lakukan oleh perahu karet kapasitas 6 orang, tetapi dapat juga di arungi dengan perahu karet inflate table kapasitas 1-2 orang, perahu kayak jenis dancer dan hardcell pun sangat memungkinkan untuk di terjunkan di jeram ini.

Barangkali tidak banyak yang mengetahui kalau Jogjakarta juga mempunyai potensi wisata sungai yang sangat menarik, Sungai Opak misalnya. Walaupun di musim kemarau debit airnya tidak begitu besar dan hanya digunakan untuk keperluan irigasi, tetapi ketika musim hujan hulu sungai Opak dengan debit lebih besar maka sungai tresebut akan menjadi deretan jeram sepanjang 100 meter dengan grade III-IV yang menantang namun aman untuk diarungi. Bentukan jeram Gemblung sangatlah bervariasi mulai dari standing wave, Arus balik (Reverse stream, stopper dan hole), belokan-belokan (bends) yang di akhiri oleh daerah tenang (plate).

Jeram Gemblung yang berada di desa Sumber Kidul, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman sangat mudah diakses darat baik kendaraan roda dua maupun mobil. Kurang lebih 15km arah timur Jogjakarta, masuk dari pertigaan kantor Kedaulatan Rakyat di jalan Solo, mengikuti jalan utama menuju desa Sumber, masuk dusun Gemblung tepat di bawah jembatan sungai Gemblung sungai Opak mengalir dengan arus derasnya. Jalan lain yang bisa dilalui yaitu dari Blok O lurus ke timur. Nama jeram Gemblung sendiri diambil dari nama daerah dimana jeram tesebut berada. Bentang alam yang terdapat di daerah tersebut merupakan zona lemah pertemuan antara batuan andesit vulkanik di sebelah barat sungai, dengan batuan karst di sebelah timur sungai.

Dari bentukan dan karakteristik kawasan sungai Opak ini masih banyak dimungkinkan jeram-jeram yang mempunyai karakteristik seperti jeram Gemblung. Akses mudah, bentukan jeram yang menantang dan bervariasi menjadikan sungai Opak sangat potensial untuk dikembangkan sebagai lokasi wisata arus deras. Dan bagi penggiat olahraga arus deras, teman-teman mapala bisa menjadikan sungai Opak sebagai pilihan lokasi pengarungan baru.