Ekspedisi Rante Mario, Latimojong Sulawesi Selatan

Ekspedisi Rante Mario, ya begitulah judul kegiatan kami kali ini. Kegiatan ini merupakan bagian dari pendidikan lanjut angkatan ke-XXVI Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada (MAPAGAMA) “Haystack”. Judul tersebut diambil berdasarkan nama tempat yang menjadi lokasi petualangan kami, yaitu pendakian ke Puncak rante Mario yang menjadi bagian dari Pegunungan Latimojong. Secara geografis Rante Mario masuk ke kecamatan Baraka, namun setelah adanya pemekaran wilayah Rante Mario masuk ke kecamatan Buntu Batu kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan. Tidak hanya Pendakian, rangkaian kegiatan ini juga terdiri atas Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang Juga merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan tinggi yang mengambil lokasi di Desa bebas rokok Bone-bone.

Diawali dengan perjalanan Jogja-Wonokramo dengan kereta api Sri Tanjung pada tanggal 12 Juli 2011, kami menyeberang dengan menggunakan KM Dempo dari Pelabuhan Tanjung Perak- Pelabuhan Makassar pada tanggal 16 Juli 2011. Pagi itu jarum jam tangan menunjukkan pukul 06.00 WITA, kami pun segera menuju sekretariat KORPALA (Korps Pencinta Alam) Universitas Hassanudin dengan menaiki sebuah ankutan yang dicarikan oleh dua orang kenalan di kapal yang merupakan anggota Mapala UVRI Makassar. Sesampainya disana kami disambut oleh Ade yang langsung mempertemukan kami dengan Baso selaku Ketua Umum KORPALA. Sambutan hangat dari teman-teman KORPALA membuat suasana menjadi seperti di sekretariat sendiri. Seorang anggota KORPALA bernama Nanang diutus untuk menjadi guide dalam kegiatan kami ini. Selain menjadi pendaping selama kami berkegiatan disana, Nanang juga sangat membantu dalam hal berkomunikasi dengan penduduk setempat yang belum bisa berbahasa Indonesia.

Cerita pun dimulai di hari ketiga terhitung semenjak kedatangan kami ke Makassaar, kami berangkat menuju kecamatan Baraka untuk mengurus perizinan dan memasang instalasi komunikasi. Tujuh jam bukan perjalanan yang singkat, mengingat kondisi yang harus kami hadapi. Coba bayangkan, Mobil Kijang kapsul yang kami tumpangi diisi oleh sepuluh orang dengan Sembilan tas carrier plus isinya yang tidak sedikit serta daypack dari tiap-tiap orang, hanya satu kata yang bisa menggambarkannya, sesak. Namun hal ini terbayar dengan pemandangan yang menemani di sepanjang perjalanan. Mulai dari sawah, tebing karst, perkampungan, hingga kuburan gantung. Hingga tak terasa mobil berhenti di depan kantor Polisi Sektor Kecamatan Baraka. Malam ini kami singgah di sekretariat sebuah KPA bernama Lembayung yang diketuai oleh Pak Dadang dan berlokasi di sebuah Sekolah Dasar.

Hari kelima, perjalanan dilanjutkan dari Kecamatan Baraka menuju Dusun Karangan yang merupakan desa terakhir menuju Puncak Rante Mario. Sebuah angkutan kota mengantarkan kami ke Kantor Camat dan Puskesmas Buntu Batu untuk keperluan perijinan. Di tengah perjalanan kami harus turun dari angkutan karena tidak kuat membawa barang-barang. Bahkan carrier-carrier yang kami ikat di atas mobil pun terjatuh hingga dua kali. Dikarenakan sedang ada perbaikan jalan yang tidak memungkinkan angkutan ini untuk lewat, selanjutnya akses menuju Dusun Karangan dapat kami jangkau dengan menggunakan mobil jenis Hardtop yang telah berjajar tidak jauh dari perbaikan  jalan. Sarana transportasi menuju desa ini memang lumayan susah, ditambah kendaraan yang hanya ada di hari senin dan kamis saja sesuai dengan hari pasar. Setelah istirahat siang kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Karangan, dan disinilah pengalaman tak terlupakan itu terjadi. Jalan menanjak dilalui dengan mudah oleh mobil jenis ini, namun kondisi mobil yang sudah tidak muda ini membuat kami harus memegangi atapnya dari dalam. Setelah naik turun bukit, melewati bebatuan dan genangan air, tiba-tiba mobil ini berhenti padahal Dusun Karangan masih belum tampak. Apa yang terjadi ? ternyata ban depan sebelah kiri mobil ini lepas dari tempatnya, sontak kami pun turun untuk melihat langsung. Dan benar saja, ban mobil lepas dari murnya ini benar-benar hal yang di luar kepala kami. Namun dengan santainya sopir hardtop ini mengambil peralatan otomotifnya dan berkata “ini sudah biasa terjadi”. Kami yang mendengar perkataan itu hanya bisa saling pandang keheranan sekaligus takjub. Setelah 20 menit dalam perbaikan, mobil siap melanjutkan perjalanan kembali. Kurang lebih pukul 15.00 WITA kami tiba di tempat tujuan, disambut warga yang menatap asing kepada kami. Dusun ini dihuni kurang lebih oleh seratus kepala keluarga dengan jumlah anak-anak yang tidak sedikit. Warga disini masih jarang yang bisa menggunakan bahasa Indonesia sehingga Pak Kadus-lah yang menjadi informan dan penghubung komunikasi selama disini.

Setelah bermalam di Karangan, keesokan paginya kami memulai pendakian ke Puncak Rante Mario. Inilah awal dari kegiatan yang telah lama kami rencanakan. Setibanya di Pos II kami mendirikan camp disana dan berencana melanjutkan pendakian keesokan paginya menuju Puncak Rante Mario lalu mendirikan camp di Pos 7. Hari ketiga pendakian kami mulai turun meninggalkan Latimojong menuju ke Karangan lagi. Kurang lebih pukul satu siang kami tiba di Desa Karangan, sulitnya mendapatkan transportasi membuat kami mengambil keputusan untuk kembali bermalam disini. Dengan dibantu Pak Kadus Karangan kami dijemput oleh sebuah Hardtop keesokan paginya. Hardtop ini pun tidak datang dengan sendirinya, Pak Kadus harus turun dan berjalan berkilo-kilo meter untuk mendapatkan mobil ini. Jarak sejauh itu hanya ditempuh Pak Kadus dalam satu jam saja, karena beliau sudah terbiasa naik-turun ke dusun bawah sana.

Kami mulai meninggalkan Karangan pukul 11.00 WITA menuju Desa Anginangin dimana desa ini adalah penghubung menuju Desa Bone-bone yang akan menjadi next destination. Hardtop yang kami tumpangi kali ini dapat dikatakan sempurna, perjalanan off-road pun terasa menyenangkan. Ditambah ketika mobil ini melewati sungai kecil yang membentang di depan kami dengan sukses, benar-benar menantang adrenalin. Namun, sedikit accident terjadi di tengah jalan, ban mobil selip di antara gundukan tanah yang tepat dalam posisi menanjak. Kami pun reflek melompat turun dari mobil dan membantu menahan ban mobildengan melempar batu ke arah ban belakang agar mobil tidak mundur. Sopir hardtop ini hanya memerlukan sedikit waktu sampai akhirnya berhasil melewati gundukan tanah dengan mulus. Tidak berapa lama setelah melanjutkan perjalanan, kami pun tiba di perbatasan yang tidak bisa lagi dilewati oleh kendaraan. Perjalanan off-road dengan hardtop pun berakhir, itu tandanya kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Setelah empat jam berjalan, kami pun tiba di Desa Bone-bone. Desa ini merupakan desa bebas rokok nomor satu di Indonesia. Keberhasilan penerapan larangan anti merokok ini dimotori oleh Pak Idris yang sekarang menjabat sebagai Kepala desa. Desa Bone-bone dipilih sebagai objek Penelitian dan Pengabdian tim kami demi melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menjadi acuan kegiatan. Rasa lelah setelah berjalan jauh hilang begitu saja ketika mendengar seorang Ibu yang kami sapa berkata “ini yang dari jogja itu ya ?? Sudah ditunggu oleh Pak Idris”. Ternyata rencana kedatangan yang telah kami beritahukan sejak lama ke Pak Idris, telah diketahui oleh warga Bone-bone. Selama disana kami tinggal dirumah Pak Idris dan istri yang sangat ramah dan kekeluargaan. Pak Idris mempunyai 4 orang anak perempuan yang masih kecil-kecil dan lucu, hal ini membuat kami betah dan merasa berada di tengah-tengah keluarga sendiri. Empat hari di Desa Bone-bone benar-benar kami manfaatkan untuk memaksimalkan penelitian dekkriptif mengenai desa bebas rokok ini. Penelitian ini kami lakukan lewat wawancara terhadap beberapa warga dari bermacam usia dan jenis kelamin secara tidak langsung.

Hari pertama di desa ini kami lewati dengan membagi tim jadi dua, tim satu mengurus perijinan ke SDN 159 yang nantinya akan menjadi sasaran pengabdian kami. Sedangkan tim yang satunya terdiri atas tim penelitian yang ikut terjun langsung membantu gotong royong bersih desa. Hari kedua, kami berkunjung ke ladang padi warga yang sedang panen. Mulai dari ani-ani hingga makan siang kami habiskan bersama warga di ladang. Walaupun terik matahari menyengat kulit namun sangat menyenangkan berada di tengah-tengah keramahan mereka hingga tidak terasa langit mulai senja, kami pun berpamitan untuk kembali ke rumah Pak Idris. Setelah beristirahat dan makan malam, kami briefing untuk pelaksanaan pengabdian besok pagi di SDN 159 Bone-bone. Inilah rangkaian terakhir dari kegiatan kali ini, sekaligus hari terakhir kami singgah disini. Pengabdian masyarakat yang akan kami lakukan berupa penyuluhan dan praktek sikat gigi dan cuci tangan yang benar.

Semangat tim untuk melaksanakan pengabdian mewarnai pagi yang cerah di Desa Bone-bone. Dalam pelaksanaan pengabdian, tim dibagi menjadi dua yaitu tim penyuluhan dan tim praktek sikat gigi&cuci tangan. Kesulitan yang kami hadapi adalah ketika berinteraksi dengan anak-anak kelas 1,2 dan 3 yang masih malu-malu dan belum bisa berbahasa Indonesia. Berbeda dengan anak-anak kelas 4,5,dan 6 yang lebih komunikatif dan lebih mudah diajak bekerja sama. Bukan hal yang mudah bagi kami untuk terjun langsung ke dunia anak-anak, namun berkat hari ini kami mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman baru melalui anak Bone-bone. Berat rasanya mengingat siang ini juga kami akan kembali ke Makassar.

Begitu kembali ke rumah Pak Idris, kami langsung bersiap dan packing sembari menantikan kedatangan truk sayur yang akan mengantar kami ke kota. Pukul 15.00 WITA truk yang ditunggu pun datang, kami segera menaikkan semua barang bawaan. Rasa sedih pun timbul ketika akan meninggalkan desa ramah tanpa asap rokok ini. Kepergian kami diantarkan oleh anak-anak kecil disana yang melambaikan tangan. Sungguh hari-hari yang sangat luar biasa dan tak akan pernah terlupakan. Perlahan truk pun semakin jauh meninggalkan Desa Bone-bone.

Hari-hari setelah selesainya semua rangkaian kegiatan, kami manfaatkan untuk mengelilingi kota Makassar sembari menunggu jadwal keberangkatan kapal. 29 Juli 2011 kami bertolak dari Makassar menuju Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Dengan menggunakan KM Sirimau, lima puluh jam kami habiskan bersama di tengah lautan. Selamat tinggal tanah Sulawesi, selamat tinggal kota Angin Mamirri. Terima kasih atas pelajaran, pengalaman, dan petualangan yang kami dapatkan. Sampai jumpa di petualangan selanjutnya, Viva MAPAGAMA so..so..so.. (Tanti)

Kartini Mapagama #2 ; Para penyibak kabut Gunung Pangrango

Berawal dari keinginan mengeksiskan kegiatan khusus wanita di Organisasi Kepecintalaman Mapagama, akhir April tahun kemarin Tim Kartini #1 Mapagama melakukan kegiatan Climbing di Lembah Kera, Malang. Kegiatan ini diadakan untuk memperingati Hari Kartini dan Hari Bumi. Sebelumnya, wanita Mapagama sudah sering melakukan ekspedisi putri, tetapi kegiatan itu kurang diekspos, sehingga muncullah ide untuk membuat kegiatan mandiri khusus wanita yang lebih berisi. Dan Alhamdulillah, tahun ini, kegiatan Kartini #2 dapat dilakukan lagi.

Tujuan tim Kartini#2 kali ini adalah pendakian ke Puncak Pangrango, Bogor. Ide ini bermula dari obrolan ringan cewek-cewek Mapa yang nongkrong di Aquarium (secretariat Mapagama-red). Kebetulan ada salah satu cewek yang sangat mengidolakan Soe Hoek Gie, sehingga dia ingin sekali makan coklat di Lembah Mandalawangi seperti adegan dalam film “Gie”. Akhirnya, teman-teman pun setuju dengan ide itu.

Segeralah, hasil dari obrolan ringan itu diworo-worokan ke cewek-cewek Mapa. Dan ternyata, tidak hanya wanita yang tertarik, pria pun ingin ikut perjalanan kami ke Pangrango. Alhasil, anggota yang berangkat meliputi 12 wanita dan 7 pria. Dua belas wanita tersebut ikut dalam manajemen tim.

Hasil dari rapat pertama, terpilihlah Laras “Ithenk” sebagai Kortim, Tanti sebagai Korlap, Incem sebagai Sekretaris, Cathi sebagai Bendahara, Ayu sebagai Transportasi, Viema sebagai Konsumsi, Iyut sebagai Dokumentasi, Uus sebagai Logistik, Yulia sebagai Komunikasi, Asa sebagai Surjin (yang akhirnya dia tidak bisa ikut karena tidak mendapat ijin), serta Bekti dan Laras “Srowot” sebagai Pembina.

Berbekal persiapan fisik dan mental yang matang, termasuk menjajakan roti untuk mengsubsidi biaya yang harus dikeluarkan, 11 cewek dan 7 cowok Mapa ditambah Yudhis, rekan dari panta rhei (mapala fakultas Filsafat UGM) berangkat dari Stasiun Lempuyangan pada hari Rabu,20 April 2011,pukul 17.00. Sebagian carrier diletakkan di bagasi atas dan yang sebagian lagi dimasukkan ke bawah kursi yang kita tempati, lalu kami bersembilan belas memulai perjalanan yang cukup memakan waktu untuk sampai ke Stasiun Pasar  Senen keesokan harinya.

Sampai disana, kami sudah disambut oleh beberapa teman Fadlih (MG’ers).  Ayu Salah Satu anggota tim Kartini datang belakangan karena ketinggalan kereta di awal perjalanan, maka kami menunggunya sembari ngobrol, ngemil, dan beristirahat, Perjalanan menuju Cibodas kami mulai setelah sarapan di sekitaran halte. Semua tas dan Carrier dimasukkan ke dalam bis, lalu kami berduapuluh bersama-sama memulai perjalanan. Harus berdiri di dalam bis menjadi kesempatan bagi kami untuk belajar solider dengan mereka yang berjuang keras menghabiskan banyak waktu untuk berproses menuju tempat tujuan.

Perjalanan menuju Cibodas berlangsung sekitar 4 jam. Pukul 09.00, kami tiba di Base Camp Green Ranger. Di sana sudah

berkumpul banyak  pendaki. Pendakian dimulai pukul 11.00 karena menunggu beberapa teman yang akan menemani kita dari

Haihata pencinta alam STEI Tazkya Bogor.

Setelah pemeriksaan simaksi,  kami pun memulai perjalanan melewati pintu gerbang Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Belum ada kira-kira 5 jam kami berjalan, ada beberapa anggota tim yang tertinggal di belakang. Akhirnya kami

putuskan untuk menunggunya sembari beristirahat sambil makan siang di salah satu pos pendakian yang kami lewati. Tak berapa lama kemudian,yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang, mereka langsung makan snack dengan lahapnya.

Langkah demi langkah kami tempuh sambil membawa carrier. Hujan, dingin, tidak menjadi penghalang perjalanan kami. Melewati air panas menjadi tujuan yang amat ditunggu-tunggu, karena cuaca yang dingin saat itu. Setelah itu kami berhenti

di salah satu pos, untuk sekedar minum dan beristirahat sejenak. Hari itu sudah gelap, bukan waktu yang tepat sebenarnya untuk melanjutkan perjalanan, tetapi karena kondisi medan yang tidak memungkinkan untuk ngecamp, akhirnya kami memutuskan

untuk melanjutkan perjalanan sampai Kandang Badak, tempat para pendaki biasa ngecamp.

Air yang menetes dari dedaunan, sinar matahari yang memancar di celah-celah pepohonan, dan tenda-tenda pendaki lainnya menjadi pemandangan di pagi yang cerah itu. Pendakian menuju Puncak Pangrango (3.019 m.dpl)  rencana dimulai kira-kira pukul 09.30. Tapi, terjadi sedikit trouble, dan kami pun harus melanjutkan perjalanan tanpa Ayu dan Viema.

Awal perjalanan yang menanjak, medan yang licin, serta kemampuan masing-masing anggota  yang berbeda mengakibatkan perjalanan kami terbagi menjadi 2 rombongan. Rombongan depan dengan Bang Ode (Lawalata IPB), Mbak Tika (Haihata Tazkia), sedangkan rombongan belakang dengan Bang Ocit. Kira-kira Pukul 16.00, rombongan depan sampai lebih dahulu di Puncak, dilanjutkan rombongan belakang.

Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh para Kartini, menggunakan kebaya dan jarik ala Kartini dan mengabadikan

momen itu di Mandalawangi ( padang Edelweis ). Jarak dari Puncak menuju Mandalawangi memang tidak cukup jauh,

hanya sekitar 5 menit saja. Sampai disana, banyak pendaki yang memandangi kami dengan ekspresi yang tampak heran dan

kagum,melihat wanita-wanita cantik berkostum kebaya berada di Puncak Pangrango. Pemandangan yang sangat jarang ditemui bukan? Sampai-sampai ada beberapa pendaki yang ingin berfoto bersama kami.

Beberapa kamera mulai dipasang di titik-titik strategis, dan kami pun mulai berpose. Bosan juga dengan hanya berpose,

akhirnya kortim mengusulkan agar kita membuat sebuah persembahan yang menarik yang nantinya akan dipertontonkan pada MG’ers lainnya. Maka, Incem pun menawarkan diri menjadi pembaca puisi “Mandalawangi- Pangrango” dan anggota yang lain memperagakan setiap baris yang terucap. Karena cuaca sudah mendung, maka kami pun segera packing.

Perjalanan turun menuju Kandang Badak  diselimuti oleh cuaca mendung. Sampai di Kandang Badak, kami

makan siang, sedangkan yang lain (khususnya yang tidak muncak) membereskan tenda. Setelah itu perjalanan turun kami

lanjutkan kembali. Medan yang licin dan berlumpur membuat perjalanan kami cukup lambat. Satu per satu dari kami banyak yang tergelincir dan jatuh. Walaupun begitu, semangat Kartini tidak serta merta hilang dari diri kami, meski langkah sudah semakin

berat tapi kami tetap gigih untuk terus berjalan menuju tempat tujuan. Dan akhirnya sampai juga di pos pemeriksaan simaksi pada pukul 21.00.

Sampai di Basecamp, Kortim segera memastikan semua anggota lengkap, dan Ayu segera mencari angkutan menuju daerah Sentul, Bogor, tempat kontrakan teman Mbak Tika, yang rencana akan menjadi tempat istirahat kita malam itu. Satu pickup untuk mengangkut carrier dan satu angkutan lagi untuk kami. Perjalanan ditempuh kurang lebih 2 jam. Selama perjalanan, hampir

semua orang tidur kecuali sopir dan Incem yang memang sengaja tidak tidur agar tidak muntah, namun akhirnya muntah juga di punggung Samid (orang yang duduk tepat di sebelahnya).

Hari terakhir di Bogor kami habiskan dengan bercanda dan mengobrol dengan teman-teman dari Tazkia. Sebagian yang lain,

bersiap packing sambil membersihkan dan menjemur beberapa barang yang basah. Evaluasi yang menjadi agenda wajib tiap kegiatan kami lakukan pada siang harinya.

Untuk menuju Stasiun Pasar Senen, kami harus dua kali naik KRL. Kereta tujuan Yogyakarta hanya ada pada pukul

21.00, sehingga kami harus menunggu di stasiun kurang lebih 2 jam. Waktu yang cukup luang ini, banyak dimanfaatkan anggota

tim untuk berfoto, mengobrol atau sekedar tidur sejenak. Ada juga yang berkenalan dengan beberapa anak penjual kipas dan

koran bekas yang biasa mangkal di stasiun. Sampai akhirnya, kereta kami datang dan kami pun bersiap pulang ke Yogyakarta.

Kebersamaan ini membangun kemandirian, solidaritas antar anggota, mengontrol emosi pada kondisi yang serba tidak pasti, menyiapkan mental dan fisik yang lebih dari biasanya. Aktualisasi diri akan tercipta pada kondisi seperti ini. Perempuan memperoleh sarana untuk menciptakan eksistensi diri dan mengekspresikan gagasan. (oleh Iyut Purbasari, editor Fahmy)

Masa Tua Masih Masa yang Berapi-api

‘Masa muda adalah masa yang berapi-api’ begitu kata sang raja dangdut, Rhoma Irama. Puncak kejayaan manusia adalah masa muda. Salah satu kejayaan yang bisa terlihat adalah dari kekuatan yang dimiliki. Terlahir sebagai bayi yang belum bisa berbuat banyak kemudian mulai merangkak, belajar berdiri, kemudian berlari. Kemudian masa muda, masa puncak untuk tenaga yang dimiliki, masa ini dikatakan masa yang berapi-api. Setelah lanjut usia menjadi sulit berjalan, respons yang tidak secepat saat muda, dan akhirnya kemampuan menurun, jika digambarkan sebagai kurva, kurvanya akan seperti gunung, naik setelah mencapai puncak akan kembali turun.

salah satu senior mapagama

Namun begitu, masa senja tak menurunkan keuletan, bisa jadi keuletan semanin menjadi-jadi! Tua-tua keladi, semakin tua semangat semakin menjadi. Mungkin itu yang pantas untuk pendakian semeru MAPAGAMA oleh para generasi pendiri sampai generasi yang terbaru. Umur boleh lebih tapi akan semakin muda semangat dan keuletannya. Pendakian ini dilengkapi dengan puncak mahameru. Dengan rambut yang tak lagi hitam, yang memberikan tanda bahwa orang sudah tak muda lagi.

Kembali saat-saat 20 tahun lalu, pendakian ini memang dalam suasana nostalgis dan family gathering oleh keluarga MAPAGAMA. Memang tekad sejak dari perencanaan adalah menjadi orang tertinggi seJawa. Dan memang seperti celoteh biasa, saat itu. Setelah sampai di Ranu kumbolo sempat terengah-engah, “wah delok-delok sesok lah, nek kesele mari yo munggah sak tekane”, begitu kata sebagian senior. Tapi memang semangat masa muda yang berapi-api, di pagi hari saat ranu kumbolo diselimuti kabut kami yang masih tertidur rapi (para muda-mudi_red) terganggu dengan guyonan mas-mas dan mbak-mbak senior.  Ternyata kelelahan kemarin sore telah hilang bersama kabut pagi ini, berganti dengan hangatnya sinar mentari, semangat 20 tahun lalu! Packing dan cek kelengkapan pun dilakukan, kemudian segera menatap tanjakan cinta yang konon katanya cinta akan langgeng jika berhasil melewati tanjakan ini tanpa menoleh. Ya, tapi sebenarnya betapa indah ranu kumbolo dari tanjakan cinta, mungkin yang menoleh akan lebih mencintai ranu kumbolo dari pada yang lain. Kemudian oro-oro ombo, kali mati, arca pada, dilalui dengan semangat. Padahal saat itu hujan mengguyur seharian, tapi tak melunturkan semangat kami (para sesepuh_red).

Hari berikutnya, dini hari mulai pendakian ke mahameru! Setelah subuh kami berada di 3676 mdpl, puncak tertinggi gunung seJawa, sesaat kami menjadi orang tertinggi seJawa. Alhamdulillah cuaca sangat cerah, tapi kami tak bisa berlama-lama di puncak karena angin sangat kencang dan sangat menambah dinginnya pagi itu. Setelah berfoto-foto kemudian kami turun dengan target langsung menuju ranupane. Sempat berhenti di ranu kumbolo untuk makan siang, senyum kami disini dsambut oleh pelangi di atas danau ranu kumbolo. Setelah itu perjalanan dilanjutkan sampai ranu pane, sore saat itu menjadi penayambut di basecamp ranu pane.

Kurva yang seperti gunung itu bukan untuk semangat dan keuletan, hal ini terbukti disini. Bahwa usia tak menurunkan semangat untuk perpetualang, masih sama dengan 20 tahun yang lalu. Ketika masa muda yang menjadi kekuatan untuk berpetualang pun dengan saat ini, walaupun masa muda sudah lewat 20 tahun yang lalu tapi tak akan surut jiwanya. “masa tua masih masa yang berapi-api” begitu kata para senior MAPAGAMA. (ysr)

foto oleh agus satriawan

Menjadi seniman lewat Rigging

Mulut gua jaran terlihat memanjang di depan Saya, mungkin sekitar 5 sampai 10 meter mulut gua ini memanjang mengikuti aliran semacam sungai kering yang sudah tidak berair itu. Wah tingginya sekitar 10 meter nih, ungkap salah satu rekan rigging saya, enggar.

foto oleh Tulus Wichaksono

Langsung saja saya memulai menyiapkan rigging set ketika enggar kembali setelah melakukan survey anchor di ujung lorong sana. “piye nek dhewe nggago lorong negingsor wae?” usul dari pemuda asal bantul dengan logat jawanya. “yo wes, aku manut kowe wae mas” sahutku ketika sesaat sebelum memulai rigging.

Terus terang saya belum begtu percaya diri ketika memulai rigging dari lorong bawah ini, dari foto dan artikel internet yang saya baca, kebanyakan “caver” lain menggunakan mulut gua bagian atas untuk rigging, berbeda dengan tempat saya memasang anchor sekarang dimana saya harus memasuki sebuah celah yang hanya selebar satu langkah orang dewasa. Tentu saja ini sediit menyulitkan saya dan mas tulus yang sama-sama berbadan tambun.

Akan tetapi ketika melihat banyaknya lubang tembus dan beberapa batu tanduk di dalam, ketidak percaya dirian saya sedikit mengendur, “wah nek iki sih kepenak” kataku dalam hati. tidak lama saya berada di tempat ini, mungkin sekitar sepuluh menit, tentu dengan kewajiban membuat lintasan yang sudah selesai sampai pitch pertama tentunya.

Di tempat ini hanya ada cahaya dari atas sana, terlihat samar ketika kepala saya tertabrak oleh kelelawar penghuni luweng ini, mungkin itu cara mereka menyambut saya. Sedikit binggung ketika harus mencari jalan kearah mana saya harus melanjutkan membuat lintasan. Saya teringat obrolan dengan pak kadus kemarin ketika rombongan kami berkunjung ke rumahnya. “nek mpun dughi sumuran pertama, mangke ngiri mawon mas” . kalau sudah sampai dasar sumur pertama nanti kekiri saja mas, kurang lebih begitu kalau di bahasa indonesiakan.

Pilihanya saat itu hanya ada dua, kekiri atau kekanan saya, saya coba lepaskan tacke bag yang berat ini, dengan carrabiner snap saya masukan ke tali lintasan, dan segera saya melanjutkan perjalanan ke kanan, mecoba mengikuti intitusi saya yang ternyata salah hari itu. Benar saja, tidak ada apa-apa selain lorong kecil yang tentu saja badan saya pun tidak akan muat melewatinya. Alhasil beralihlah saya dengan mengambil arah berlawanan, ada dua lorong di depan saya, yang satu buntu yang satu kemungkinan ini lorong menuju pitch kedua di gua terpanjang di Indonesia ini.

Kembali saya mengulur tali karmantel dari tackle bag kuning ini, lepas dari lorong yang memuat saya harus merunduk, saya melihat sebuah chamber besar ukuranya saya perkirakan 15 meter lebarnya, dan panjangnya mungkin panjang sekali, hal ini Karena sinar dari headlamp saya tidak bisa melihat ujung dari lorong gua ini. “ asemik, guedhe buanget loronge, njuk headlampku rak tekan neh” itu yang saya ucapkan sesaat seltelah saya menyadiri ini lah ujung pitch pertama gua ini.

Berbeda dengan ketika saya membuatkan lintasan di lorong awal tadi, di pitch ini saya banyak menemukan lubang tembus, akan tetapi saya tidak menemukan lubang tembus yang letaknya tepat di ujung pitch seperti yang saya mau, setelah sedikit memutar otak, saya putuskan untuk menggunakan lubang tembus yang jaraknya paling dekat dengan ujung picth, konsekwensinya saya mengulur webbing panjang sampai menggantung dan menghindarii friksi dengan ujung pitch.

Saat sedang menggantung, saya teringat dengan tali karmantel yang saya bawa. “iki cukup po ora yo?”, saya membawa tali sepanjang 110 m, perkiraan saya sampai ujung pitch ini butuh paling tidak 30 meter. Saya mencoba berhitung dan memantapkan hati saya bahwa tali ini masih cukup sampai di bawah nanti. Suara yang timbul dar capstain simple saya memuat saya sedikit tegang, krek, krek, kreeekk, semakin panjang saya mengulur tali dari tacke bag, semakin panjang pula bunyi yang keluar. Saya  benci dengan situasi seperti ini, situasi dimana tingkat sentifitas saya terhadap bunyi-bunyian aneh sangat peka.

Kaki saya menapak di sebuah batu besar di dasar gua ini, terlihat dari tempat saya di ujung anchor sana sudah bersiap fadhlih, rekan satu tim rigging bersama saya, dan sontak saya berterikan “rope free” ketika tubuh saya sudah tak terkait dengan tali lintasan. Setidaknya sampai saat itu tugas saya menyediakan lintasan bagi rekan saya yang lain telah usai. Dan saat itu Saya teringat dengan perkataan salah seorang senior saya saat pertama kali harus rigging, “rigging itu seni, tiap orang punya caranya sendiri” (Fahmy)

RTDJ: Yang kecil bukan berarti mudah

Udara yang menusuk tulang di pagi hari membuat kami terbagun, terbangun dari tenda tempat kami bermalam semalam, rasanya sangat enggan unuk melepaskan sleeping bag yang rasanya sudah lengket menyelimuti tubuh kami, tapi paksaan bahwa hari ini adalah hari operasional pengarungan membuat kami harus menanggalkan sleeping bag dan bergegas untk bersiap melakukan pengarungan di siang hari nanti.

Tiga gelas kopi dan dua gelas susu yang di siapkan Laras (satu-satunya wanita di team kami) serasa hanya menunda dingin yang kami rasakan sesaat, akan tetapi itu sudah cukup untuk mengurangi dingin yang kami rasakan, di samping beberapa batang rokok filter yang kami hisap di pagi hari.

Kami telah siap dengan konstum kegiatan kami, sebuah pakaian khusus arung jeram dengan warna kuning  dominan di selingi warna hitam, layaknya lembang MAPAGAMA. Yang merupakan sumbangan dari salah satu senior kami yang juga owner dari perusahaan Biawak, salah satu penyedia produk-produk arung jeram.

Tepat ketika jam 09.30 wib, team melakukan scouting darat dan membuat sketsa jeram di 10 jeram terbaik di sungai ini, berbekal nformasi yang sudah di berikan oleh rekan kami disana (salah satu Operator peyedia jasa arung jeram). Dua jam dari waktu awal kami melakukan sketsa jeram, jeram terakhir selesai di skets oleh Yasser yaitu jeram blender, jeram yang akan sangat berkesan buat kami.

Setelah beristirahat untuk ibadah shalat jumat, “ibadah” kembali kami lanjutkan, sebuah perahu karet warna merah sudah di siapkan berserta kelengkapan lainya, trip pertama pengarungan kali ini di isi oleh 6 orang di perahu dan 4 orang rescuer darat.

Arus yang bergitu deras membuat sungai ini sangat cepat di arungi, beberapa jeram awal kami rasakan begitu cepat, tak selesai sampai di situ, kami di paksa berputar-putar di eddies yang membuat kami tersadar bahwa ini lah palayangan, sungai yang kecil bukan berarti mudah.

Dominasi drop-dropan dengan penampang sungai yang  hanya seukuran satu perahu menjadikan sungai ini berbeda dengan sungai  progo yang kami  kami arungi untuk latihan.

Cerita kami tambah berkesan ketika sampai pada trip pengarungan kedua, setelah berganti personel, pengarungan kami lanjutkan. Kali ini kami melewati jeram dengan lebih lancar, berbeda dengan trip pertama tadi, sampai akhirnya kami tiba di jeram blender dengan posisi masuk membelakangi jeram (ini karena manuver kami  kurang mantap tentunya), dan benar saja, perahu kami terbalik di jeram ini, jeram yang setiap hari kami lihat karena berada dekat sekali dengan tenda kami.

Seluruh penumpang perahu jatuh, dan dengan sigap para rescuer meolongi satu persatu dari mereka, dan sekali lagi “yang kecil bukan berarti mudah”(fahmy)

RTDJ: Welcome Palayangan

Mendengar kata Palayangan, mungkin untuk penggemar arung jeram, sungai ini kalah tenar di banding dengan sungai-sungai lain di jawa barat layaknya Citatih dan Citarik.

Sungai dengan panjang lintasan arung jeram sejauh 4 km ini berada di kecamatan palayangan, sebuah kecamatan di kabupaten Bandung.  Setidaknya kami menghabiskan waktu lebih dari 2 jam perjalanan dari pusat kota bandung untuk menuju kesana. Tentu saja dengan menggunakan angkutan umum jenis bus kota.

Jalanan khas daerah pegunungan yang berkelok-kelok di selingi dengan pemandangan yang cukup menyejukan mata menemani perjalanan kami, berbeda ketika kami mengijakan kaki pertama kali di kota ini setelah turun dari kereta kahuripan di awal pagi tadi.

Berbekal saran dari kenalan di kereta, kami memutuskan untuk mengganti rute perjalanan kami menuju “arena bermain” kami, yang sebelumnya turun di stasiun kiaracondong menjadi turun di stasiun besar kota bandung atau lebih popular dengan nama stasiun hall.

Sampailah kami di pangalengan tepat ketika matahari berada si atas kepala, walaupun jarum jam menunjukan angka 12, cuaca di sini tidak terasa seperti  layaknya cuaca panas di siang hari. Maklumlah, tempat kami berada sekerang berada di sekitaran ketinggian  1000mdpl.

Dari tempat ini kami melanjutkan perjalana dengan menggunkan mobil carteran seharga 35 ribu menuju situ cileunca, situ atau sebuah waduk dalam bahasa indonesianya, dan ternyata sungai yang akan kami arungi merupakan sebuah sungai  yang sumber  airnya  bersumber dari situ ini.

Sungai ini membelah hutan pinus dan perkebunan teh, dan ini lah yang membuat sungai ini menjadi lebih menarik untuk kami, di samping karakteristik sungai yang berbeda total dengan sungai di jogja, layaknya progo dan ello.

Bergegas kami mendirikan tenda di di dekat sungai, di bawah empat pohon pinus yang serasa menjadi sebuah tiang pancang untuk tenda kami. Derasnya air membuat jeram di dekat tenda kami serasa memanggil kami untuk segera “beribadah” esok hari.

Dan di tempat ini lah kami akan menghabiskan tiga malam berikutnya, dalam sebuah bagian kecil dari sebuah perjalanan panjang, ya, ini lah “Rafting tour de java”..(fahmy)

saat pulang dari Lombok.

sabtu, 25 Juli 2009

saLah satu yang menurutku paLing menyenangkan dari senaru adalah ketika pagi hari..

matahari yang memang sedikit terLambat datang menembus ceLah kaca, menerobos uap air tipis yang mengambang di udara pagi pegunungan dengan ketinggian 1000-an mdpl dan sedkit membahakehangatan, tak ayal romansa pagi hari di Lombok menjadi sedikit berwarna merah muda. Entah sudah berapa waktu LaLu Lombok menjadi bagian dari cara yang harus ku piLih untuk bangun dari tidur. Suasana yang sedikit copy paste dengan kebanyakan base camp gunung di Jawa memang bisa meLarutkan waktu dengan buLir pagi hingga kembaLi petang dengan senja yang kembaLi merah muda.

Senaru, tempat yang teLah beberapa hari teakhir ku titipkan badan membuat skenario pagi yang sama, yah.. membuat pagi sepertinya memang harus diteruskan hingga kembaLi petang ditempat itu,

Tidak.. hari ini waktu yang teLah ditentukan untuk kembaLi menuju Mataram, paLing tidak untuk Lebih kembaLi beraktivitas sedikit normaL dengan terbangun oleh suasana corwded, akrab Lagi dengan rush hour dan warung kopi hingga Larut maLam..

Tepat jam setengah tujuh pagi saat aku pamit dengan tim Eks-Putri (Ekspedisi Putri maksudku, sedikit perubahan nama untuk mendramatisir cerita..) untuk turun ke mataram dengan mas fian, petugas BTN Rinjani yang juga senior UGM yang berencana mudik ke Bima via Mataram, bareng juga dengan teman dari GrahapaLa Rinjani Universitas Mataram, Edi dan Ambem yang belakangan ku ketahui bernama samsuL hady. Lombok utara yang baru genap berusia setahun kami Lintasi dengan memacu kuda besi, hamparan Ladang, jembatan, pemukiman, Ladang Lagi, tanah kosong tak terurus, Ladang Lagi,pemukiman Lagi, kota kecamatan,barisan bibir pantai yang berganti dengan pemukiman sebeLum bertemu Lagi-Lagi dengan hamparan Ladang. Genap satu jam waktu yang di habiskan kuda besi kami untuk menghampiri ibukota kabupatenyang baru bermodaL kantor bupati dan UPT dinas LokaL berupa puskesmas, kembaLi Lagi Ladang dan sawah berganitian dengan pemukiman sebelum kami masuk lombok tengah dan pemandangan yang sama sebelum kami harus menambah konsetrasi ketika meLewati Pusuk Senggigi, hutan lindung yang terkenaL dengan ‘tanjakan super tahan napas, tahan gas, super banyak monyet, dan ttentu saja super tahan lapar’.

Tak terLaLu detail bentuk jaLan yang kami LaLui setelah Pusuk, karena perhatianku sendiri terah teraLih dengan suasana sub urban yang muLai memakan rakus kepeduLian sosiaLku. Yah.. memang tak terLaLu Lama waktu yang diLewatkan untuk sampai di UNRAM,

“kota..” bisikku pada waktu yang memang kurasa hanya sedikit menegaskan perbedaan suasana tanah merah yang ku injak tiga jam LaLu dengan sekarang.

Pagi yang sama di GPR, mungkin teLah dijeLaskan daLam cerita perjaLanan sebeLum ini, sambutan sederhana aLa mapaLa, dan beberapa basa-basi penghabis waktu hingga kopi buatan Nurli harus kami Lewati sebeLum jam 14.00 Wita tepat yang memang kami rencanakan untuk mencoba peruntungan ke Pasar Sindu untuk berburu beberapa barang-barang.

Memang hanya Kain yang kudapat seteLah beberapa kios pasar ku datangi, tapi sebenarnya Lebih dapi pada itu yang kudapat di saLah satu pusat aktifitas di daerah Cakranegara itu, selain udara kotor dan warung rokok eceran tentunya. Aku dapat Lebih beberapa memori yang memang harus aku simpan daLam harddisk untuk mengantisipasi bocornya informasi tentang Lombok di memoryku beberapa tahun ke depan ketika aku harus bercerita tentang Lombok dan bunteLan aktifitas di daLamnya.

Jam 17.00 WITA saat aku teLah kembaLi Lagi ke UNRAM, dengan segera Kopi khas Nurli menyambut kami (aku dan bang Fian), mungkinhanya 10 menit bang Fian pamit utuk mengejar rentetan kapaL feri penyebrangan menujuBima yang menurutnya menyerupai tupai-tupai di kebun kopi yang saling melompat mirip fiLm buatan Walt Disney yang masih memegang Oscar Award terbanyak (oh Tuhan.. aq Lupa juduL dan nama tokohnya).

Catur dengan singkat menawariku tumpangan menuju PeLabuhan Lembar yang memang aku tunggu-tunggu dan Langsung aq iyakan tanpa basa-basi (entah sudah berpa tahun penyakit ini ku derita, basa-basi yang seLaLu menyerang akut ketika kebaikan seseorang seperti paLu godam yang harus aq hajarkan Lagi ke kepaLa orang yang memberiku kebaikan), motor catur mungkin satu-satunyamotor dengan pLat nomor poLisi jawa yang ku temui di Lombok, tetapi itu bukanLah masaLah ketika kami berdua meLewati jaLanan sempit nan Lenggang dengan warnaudara khas senja seperti di awaL cerita pagiini (maaf aq maLas untuk kembaLi mendramatisir cerita dan suasana di daLamnya). Dibonceng ketua GPR (Lebih enak untuk disebutkan) seperti gambaran perjaLanan ketika aku menemui tempat baru dan di dampingi guide LokaL dengan bahasa khas persuasif Banyuwangi-nya, “mataram itu..bla..bla..bla..”, kata catur diseLingi kata , “djancuk, sundeL dan sumpret” yang bercampur seoLah berangkai bagai kata sambung yang wajib ada untuk satu baris kaLimat.

Magrib dan suara adzan menghampiri Lekat daun telIngaku saat kapal fery yang kutumpangi muLai berjaLan dengan warna senja yang telah gelap dan memudar pekat. “sumpret..tempat ini menyenangkan”, bisikku peLan sembari meLambai pada Catur yang masih berdiri tegap dengan styLe khas mapaLa yang memang dia piLih di ujung peLabuhan, dia yang masih menikmati rokok terakhirnya yang memang teLah kami habiskan berdua sepanjang berjalanan terLihat masih rajin menunggu geLap di tempat itu (walaupun memang sudah geLap adanya).

Penyebrangan Lombok baLi adaLah bagian penting dari cerita ini, 5 jam perjaLanan Laut dengan akses geLombang laut dan goyangan kapaL besar berbau soLar dan Lengket garam. Mungkin hanya sekitar 10 penumpang yang ada di paLka kapaL Lantai dua itu. keLuarga ayah ibu dan tiga anaknya duduk tepat Lesehan di depanku, sang anak paling kecil muLai mabuk Laut saat fery baru berjaLan 10 menit, suara beL kapaL, bau soLar, derungan mesin dan goyangan geLombang laut muLai bercampur aduk dan menmbuat si anak itu muntah untuk kaLi kedua. (huh..hal yang kutakutkan terjadi padaku).

Lombok yang seperti trapesium hijau tanpa sudut dari jauh terLihat makin keciL, SMD (slide memory dispLay) menyerangku, sawah, Ladang tembakau Lombok timur, senyuman khas orang sasak, pLang masuk kawasan taman nasionaL, jaLan pemuda Mataram, cidomo dengan kuda putih yang kelelahan berlari, bau khas brem pendam senaru, masjid bayan beLe’ kala sore hari, pos PHPA sembaLun, sekretariat UNRAM, merokok sore hari di sembaLun, gambaran-gambaran berjajar bagai sLide kuLiah yang rapi. Tapi 5 jam menurutku waktu yang Lebih dari cukup untuk menata memori dan membuatnya Lebih rapi dan ku compress dengan ukuran yang lebih sederhana agar dapat kusimpan dalam waktu yang lama, terus kutata memori agar lebih menyeeruai slide perpisahan khas malam keakraban kampus sembari kuhisap rokok yangmemang harus ada dalam sebuah cerita perjaLanan yang ku buat.

Minggu, 26 Juli 2009

Jam 12 maLam aq sampai di peLabuhan padang bay setengah sadar seteLah keLeLahan menghabiskan energi untuk memuat cerita dan kenangan daLam ingatan. Gerimis datang dan menambah suasana semakin mendayu-dayu (baru kaLi ini aq merasa sedikit Lebih meLayu dari pada orang melayu itu sendiri).

Hampir satu jam aq duduk untuk menunggu kendaraan yang bisa ku tumpangi, kantuk yang dari tadi kutahan-tahan memuncak, sempat terLeLap sebentar saat minibus yang mnemang kutunggu menghampiri tempat dudukku yang memamg di pinggir jaLan. “ubung berapa pak?”, tanyaku. “60 mas, cuma tinggaL angkot satu ini aja” jawabnya sedikit mengancam dengan Logat jawa yang mengagetkanku. Tawaranku untuk harga yang Lebih murah seLaLu mentah, mungkin memang karena skiLL menawarku yang dibawah rata-rata. Mini bus itu hanya terisi aku dan seorang penumpang bapak-bapak 50 tahunan yang mengenakan peci putih dan jaket kuLit dan teLah terLeLap di pojok belakang mini bus, tepat jam setengah empat pagi ketika aku turun di terminal ubung dan sebeLum masuk aq ditawari naik truk untuk menyebrang hingga ketapang yang Langsung ku iyakan. perjaLanan meLintasi baLi memang tak bisa untuk banyak kuceritakan karena kantuk memaksa mataku untuk tertutup.

Jam 06.30 WIB ketika aq sampai di Ketapang dan walaupun aku tau sudah teLambat untuk mengejar kereta sritanjung tetap ku coba untuk berLari keciL, dan benar aq terLambat. Sembari makan dipelataran stasiun ketapan aq berpikir dankembali menghitung uang yang kupunya untuk pulang, “memang harus naik sritanjung”, pikirku. Kuputuskan untuk menginap di stasiun ini satu maLam, sebeLum magrip aq diusir karena memang tidak diperbolehkan untuk menginap disitu,

Dipinggir jaLan besar Banyuwangi-Rogojampi kurebahkan badanku maLam itu berbantaL day pack, cukup sepi dan hangat karena memang ketinggian tempat yang memang hanya beberapa meter diatas permukaan laut, beberpaka kaLi aq terbangun di maLam itu seteLah dingin maLam dan uap basah menerpa wajahku yangkututupi kain yang kubeLi di Pasar Sindu.

Senin, 27 Juli 09

Jam 5 pagi aku sudah sampai di stasiun ketika kuputuskan untuk naik kereta ekonomi Banyuwangi-Jember, kereta ini membawaku menuju jember dalam waktu 3 jam. Cukup waktu untuk ku yang memang harus berhenti di stasiun jember, tempat dimana aku harus menyerahkan Laptop yang kubawa dari jogja pada kawanku yang KKN di jember, sekitar satu jam aq menunggu sritanjung menghampiri. Jam 09.15 WIB, sritanjung datang dan kuseLesaikan perjaLananku di Lempuyangan jam 22.15 WIB. (Enggar)