Ekspedisi Rante Mario, Latimojong Sulawesi Selatan

Ekspedisi Rante Mario, ya begitulah judul kegiatan kami kali ini. Kegiatan ini merupakan bagian dari pendidikan lanjut angkatan ke-XXVI Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada (MAPAGAMA) “Haystack”. Judul tersebut diambil berdasarkan nama tempat yang menjadi lokasi petualangan kami, yaitu pendakian ke Puncak rante Mario yang menjadi bagian dari Pegunungan Latimojong. Secara geografis Rante Mario masuk ke kecamatan Baraka, namun setelah adanya pemekaran wilayah Rante Mario masuk ke kecamatan Buntu Batu kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan. Tidak hanya Pendakian, rangkaian kegiatan ini juga terdiri atas Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang Juga merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan tinggi yang mengambil lokasi di Desa bebas rokok Bone-bone.

Diawali dengan perjalanan Jogja-Wonokramo dengan kereta api Sri Tanjung pada tanggal 12 Juli 2011, kami menyeberang dengan menggunakan KM Dempo dari Pelabuhan Tanjung Perak- Pelabuhan Makassar pada tanggal 16 Juli 2011. Pagi itu jarum jam tangan menunjukkan pukul 06.00 WITA, kami pun segera menuju sekretariat KORPALA (Korps Pencinta Alam) Universitas Hassanudin dengan menaiki sebuah ankutan yang dicarikan oleh dua orang kenalan di kapal yang merupakan anggota Mapala UVRI Makassar. Sesampainya disana kami disambut oleh Ade yang langsung mempertemukan kami dengan Baso selaku Ketua Umum KORPALA. Sambutan hangat dari teman-teman KORPALA membuat suasana menjadi seperti di sekretariat sendiri. Seorang anggota KORPALA bernama Nanang diutus untuk menjadi guide dalam kegiatan kami ini. Selain menjadi pendaping selama kami berkegiatan disana, Nanang juga sangat membantu dalam hal berkomunikasi dengan penduduk setempat yang belum bisa berbahasa Indonesia.

Cerita pun dimulai di hari ketiga terhitung semenjak kedatangan kami ke Makassaar, kami berangkat menuju kecamatan Baraka untuk mengurus perizinan dan memasang instalasi komunikasi. Tujuh jam bukan perjalanan yang singkat, mengingat kondisi yang harus kami hadapi. Coba bayangkan, Mobil Kijang kapsul yang kami tumpangi diisi oleh sepuluh orang dengan Sembilan tas carrier plus isinya yang tidak sedikit serta daypack dari tiap-tiap orang, hanya satu kata yang bisa menggambarkannya, sesak. Namun hal ini terbayar dengan pemandangan yang menemani di sepanjang perjalanan. Mulai dari sawah, tebing karst, perkampungan, hingga kuburan gantung. Hingga tak terasa mobil berhenti di depan kantor Polisi Sektor Kecamatan Baraka. Malam ini kami singgah di sekretariat sebuah KPA bernama Lembayung yang diketuai oleh Pak Dadang dan berlokasi di sebuah Sekolah Dasar.

Hari kelima, perjalanan dilanjutkan dari Kecamatan Baraka menuju Dusun Karangan yang merupakan desa terakhir menuju Puncak Rante Mario. Sebuah angkutan kota mengantarkan kami ke Kantor Camat dan Puskesmas Buntu Batu untuk keperluan perijinan. Di tengah perjalanan kami harus turun dari angkutan karena tidak kuat membawa barang-barang. Bahkan carrier-carrier yang kami ikat di atas mobil pun terjatuh hingga dua kali. Dikarenakan sedang ada perbaikan jalan yang tidak memungkinkan angkutan ini untuk lewat, selanjutnya akses menuju Dusun Karangan dapat kami jangkau dengan menggunakan mobil jenis Hardtop yang telah berjajar tidak jauh dari perbaikan  jalan. Sarana transportasi menuju desa ini memang lumayan susah, ditambah kendaraan yang hanya ada di hari senin dan kamis saja sesuai dengan hari pasar. Setelah istirahat siang kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Karangan, dan disinilah pengalaman tak terlupakan itu terjadi. Jalan menanjak dilalui dengan mudah oleh mobil jenis ini, namun kondisi mobil yang sudah tidak muda ini membuat kami harus memegangi atapnya dari dalam. Setelah naik turun bukit, melewati bebatuan dan genangan air, tiba-tiba mobil ini berhenti padahal Dusun Karangan masih belum tampak. Apa yang terjadi ? ternyata ban depan sebelah kiri mobil ini lepas dari tempatnya, sontak kami pun turun untuk melihat langsung. Dan benar saja, ban mobil lepas dari murnya ini benar-benar hal yang di luar kepala kami. Namun dengan santainya sopir hardtop ini mengambil peralatan otomotifnya dan berkata “ini sudah biasa terjadi”. Kami yang mendengar perkataan itu hanya bisa saling pandang keheranan sekaligus takjub. Setelah 20 menit dalam perbaikan, mobil siap melanjutkan perjalanan kembali. Kurang lebih pukul 15.00 WITA kami tiba di tempat tujuan, disambut warga yang menatap asing kepada kami. Dusun ini dihuni kurang lebih oleh seratus kepala keluarga dengan jumlah anak-anak yang tidak sedikit. Warga disini masih jarang yang bisa menggunakan bahasa Indonesia sehingga Pak Kadus-lah yang menjadi informan dan penghubung komunikasi selama disini.

Setelah bermalam di Karangan, keesokan paginya kami memulai pendakian ke Puncak Rante Mario. Inilah awal dari kegiatan yang telah lama kami rencanakan. Setibanya di Pos II kami mendirikan camp disana dan berencana melanjutkan pendakian keesokan paginya menuju Puncak Rante Mario lalu mendirikan camp di Pos 7. Hari ketiga pendakian kami mulai turun meninggalkan Latimojong menuju ke Karangan lagi. Kurang lebih pukul satu siang kami tiba di Desa Karangan, sulitnya mendapatkan transportasi membuat kami mengambil keputusan untuk kembali bermalam disini. Dengan dibantu Pak Kadus Karangan kami dijemput oleh sebuah Hardtop keesokan paginya. Hardtop ini pun tidak datang dengan sendirinya, Pak Kadus harus turun dan berjalan berkilo-kilo meter untuk mendapatkan mobil ini. Jarak sejauh itu hanya ditempuh Pak Kadus dalam satu jam saja, karena beliau sudah terbiasa naik-turun ke dusun bawah sana.

Kami mulai meninggalkan Karangan pukul 11.00 WITA menuju Desa Anginangin dimana desa ini adalah penghubung menuju Desa Bone-bone yang akan menjadi next destination. Hardtop yang kami tumpangi kali ini dapat dikatakan sempurna, perjalanan off-road pun terasa menyenangkan. Ditambah ketika mobil ini melewati sungai kecil yang membentang di depan kami dengan sukses, benar-benar menantang adrenalin. Namun, sedikit accident terjadi di tengah jalan, ban mobil selip di antara gundukan tanah yang tepat dalam posisi menanjak. Kami pun reflek melompat turun dari mobil dan membantu menahan ban mobildengan melempar batu ke arah ban belakang agar mobil tidak mundur. Sopir hardtop ini hanya memerlukan sedikit waktu sampai akhirnya berhasil melewati gundukan tanah dengan mulus. Tidak berapa lama setelah melanjutkan perjalanan, kami pun tiba di perbatasan yang tidak bisa lagi dilewati oleh kendaraan. Perjalanan off-road dengan hardtop pun berakhir, itu tandanya kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Setelah empat jam berjalan, kami pun tiba di Desa Bone-bone. Desa ini merupakan desa bebas rokok nomor satu di Indonesia. Keberhasilan penerapan larangan anti merokok ini dimotori oleh Pak Idris yang sekarang menjabat sebagai Kepala desa. Desa Bone-bone dipilih sebagai objek Penelitian dan Pengabdian tim kami demi melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menjadi acuan kegiatan. Rasa lelah setelah berjalan jauh hilang begitu saja ketika mendengar seorang Ibu yang kami sapa berkata “ini yang dari jogja itu ya ?? Sudah ditunggu oleh Pak Idris”. Ternyata rencana kedatangan yang telah kami beritahukan sejak lama ke Pak Idris, telah diketahui oleh warga Bone-bone. Selama disana kami tinggal dirumah Pak Idris dan istri yang sangat ramah dan kekeluargaan. Pak Idris mempunyai 4 orang anak perempuan yang masih kecil-kecil dan lucu, hal ini membuat kami betah dan merasa berada di tengah-tengah keluarga sendiri. Empat hari di Desa Bone-bone benar-benar kami manfaatkan untuk memaksimalkan penelitian dekkriptif mengenai desa bebas rokok ini. Penelitian ini kami lakukan lewat wawancara terhadap beberapa warga dari bermacam usia dan jenis kelamin secara tidak langsung.

Hari pertama di desa ini kami lewati dengan membagi tim jadi dua, tim satu mengurus perijinan ke SDN 159 yang nantinya akan menjadi sasaran pengabdian kami. Sedangkan tim yang satunya terdiri atas tim penelitian yang ikut terjun langsung membantu gotong royong bersih desa. Hari kedua, kami berkunjung ke ladang padi warga yang sedang panen. Mulai dari ani-ani hingga makan siang kami habiskan bersama warga di ladang. Walaupun terik matahari menyengat kulit namun sangat menyenangkan berada di tengah-tengah keramahan mereka hingga tidak terasa langit mulai senja, kami pun berpamitan untuk kembali ke rumah Pak Idris. Setelah beristirahat dan makan malam, kami briefing untuk pelaksanaan pengabdian besok pagi di SDN 159 Bone-bone. Inilah rangkaian terakhir dari kegiatan kali ini, sekaligus hari terakhir kami singgah disini. Pengabdian masyarakat yang akan kami lakukan berupa penyuluhan dan praktek sikat gigi dan cuci tangan yang benar.

Semangat tim untuk melaksanakan pengabdian mewarnai pagi yang cerah di Desa Bone-bone. Dalam pelaksanaan pengabdian, tim dibagi menjadi dua yaitu tim penyuluhan dan tim praktek sikat gigi&cuci tangan. Kesulitan yang kami hadapi adalah ketika berinteraksi dengan anak-anak kelas 1,2 dan 3 yang masih malu-malu dan belum bisa berbahasa Indonesia. Berbeda dengan anak-anak kelas 4,5,dan 6 yang lebih komunikatif dan lebih mudah diajak bekerja sama. Bukan hal yang mudah bagi kami untuk terjun langsung ke dunia anak-anak, namun berkat hari ini kami mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman baru melalui anak Bone-bone. Berat rasanya mengingat siang ini juga kami akan kembali ke Makassar.

Begitu kembali ke rumah Pak Idris, kami langsung bersiap dan packing sembari menantikan kedatangan truk sayur yang akan mengantar kami ke kota. Pukul 15.00 WITA truk yang ditunggu pun datang, kami segera menaikkan semua barang bawaan. Rasa sedih pun timbul ketika akan meninggalkan desa ramah tanpa asap rokok ini. Kepergian kami diantarkan oleh anak-anak kecil disana yang melambaikan tangan. Sungguh hari-hari yang sangat luar biasa dan tak akan pernah terlupakan. Perlahan truk pun semakin jauh meninggalkan Desa Bone-bone.

Hari-hari setelah selesainya semua rangkaian kegiatan, kami manfaatkan untuk mengelilingi kota Makassar sembari menunggu jadwal keberangkatan kapal. 29 Juli 2011 kami bertolak dari Makassar menuju Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Dengan menggunakan KM Sirimau, lima puluh jam kami habiskan bersama di tengah lautan. Selamat tinggal tanah Sulawesi, selamat tinggal kota Angin Mamirri. Terima kasih atas pelajaran, pengalaman, dan petualangan yang kami dapatkan. Sampai jumpa di petualangan selanjutnya, Viva MAPAGAMA so..so..so.. (Tanti)

Kartini Mapagama #2 ; Para penyibak kabut Gunung Pangrango

Berawal dari keinginan mengeksiskan kegiatan khusus wanita di Organisasi Kepecintalaman Mapagama, akhir April tahun kemarin Tim Kartini #1 Mapagama melakukan kegiatan Climbing di Lembah Kera, Malang. Kegiatan ini diadakan untuk memperingati Hari Kartini dan Hari Bumi. Sebelumnya, wanita Mapagama sudah sering melakukan ekspedisi putri, tetapi kegiatan itu kurang diekspos, sehingga muncullah ide untuk membuat kegiatan mandiri khusus wanita yang lebih berisi. Dan Alhamdulillah, tahun ini, kegiatan Kartini #2 dapat dilakukan lagi.

Tujuan tim Kartini#2 kali ini adalah pendakian ke Puncak Pangrango, Bogor. Ide ini bermula dari obrolan ringan cewek-cewek Mapa yang nongkrong di Aquarium (secretariat Mapagama-red). Kebetulan ada salah satu cewek yang sangat mengidolakan Soe Hoek Gie, sehingga dia ingin sekali makan coklat di Lembah Mandalawangi seperti adegan dalam film “Gie”. Akhirnya, teman-teman pun setuju dengan ide itu.

Segeralah, hasil dari obrolan ringan itu diworo-worokan ke cewek-cewek Mapa. Dan ternyata, tidak hanya wanita yang tertarik, pria pun ingin ikut perjalanan kami ke Pangrango. Alhasil, anggota yang berangkat meliputi 12 wanita dan 7 pria. Dua belas wanita tersebut ikut dalam manajemen tim.

Hasil dari rapat pertama, terpilihlah Laras “Ithenk” sebagai Kortim, Tanti sebagai Korlap, Incem sebagai Sekretaris, Cathi sebagai Bendahara, Ayu sebagai Transportasi, Viema sebagai Konsumsi, Iyut sebagai Dokumentasi, Uus sebagai Logistik, Yulia sebagai Komunikasi, Asa sebagai Surjin (yang akhirnya dia tidak bisa ikut karena tidak mendapat ijin), serta Bekti dan Laras “Srowot” sebagai Pembina.

Berbekal persiapan fisik dan mental yang matang, termasuk menjajakan roti untuk mengsubsidi biaya yang harus dikeluarkan, 11 cewek dan 7 cowok Mapa ditambah Yudhis, rekan dari panta rhei (mapala fakultas Filsafat UGM) berangkat dari Stasiun Lempuyangan pada hari Rabu,20 April 2011,pukul 17.00. Sebagian carrier diletakkan di bagasi atas dan yang sebagian lagi dimasukkan ke bawah kursi yang kita tempati, lalu kami bersembilan belas memulai perjalanan yang cukup memakan waktu untuk sampai ke Stasiun Pasar  Senen keesokan harinya.

Sampai disana, kami sudah disambut oleh beberapa teman Fadlih (MG’ers).  Ayu Salah Satu anggota tim Kartini datang belakangan karena ketinggalan kereta di awal perjalanan, maka kami menunggunya sembari ngobrol, ngemil, dan beristirahat, Perjalanan menuju Cibodas kami mulai setelah sarapan di sekitaran halte. Semua tas dan Carrier dimasukkan ke dalam bis, lalu kami berduapuluh bersama-sama memulai perjalanan. Harus berdiri di dalam bis menjadi kesempatan bagi kami untuk belajar solider dengan mereka yang berjuang keras menghabiskan banyak waktu untuk berproses menuju tempat tujuan.

Perjalanan menuju Cibodas berlangsung sekitar 4 jam. Pukul 09.00, kami tiba di Base Camp Green Ranger. Di sana sudah

berkumpul banyak  pendaki. Pendakian dimulai pukul 11.00 karena menunggu beberapa teman yang akan menemani kita dari

Haihata pencinta alam STEI Tazkya Bogor.

Setelah pemeriksaan simaksi,  kami pun memulai perjalanan melewati pintu gerbang Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Belum ada kira-kira 5 jam kami berjalan, ada beberapa anggota tim yang tertinggal di belakang. Akhirnya kami

putuskan untuk menunggunya sembari beristirahat sambil makan siang di salah satu pos pendakian yang kami lewati. Tak berapa lama kemudian,yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang, mereka langsung makan snack dengan lahapnya.

Langkah demi langkah kami tempuh sambil membawa carrier. Hujan, dingin, tidak menjadi penghalang perjalanan kami. Melewati air panas menjadi tujuan yang amat ditunggu-tunggu, karena cuaca yang dingin saat itu. Setelah itu kami berhenti

di salah satu pos, untuk sekedar minum dan beristirahat sejenak. Hari itu sudah gelap, bukan waktu yang tepat sebenarnya untuk melanjutkan perjalanan, tetapi karena kondisi medan yang tidak memungkinkan untuk ngecamp, akhirnya kami memutuskan

untuk melanjutkan perjalanan sampai Kandang Badak, tempat para pendaki biasa ngecamp.

Air yang menetes dari dedaunan, sinar matahari yang memancar di celah-celah pepohonan, dan tenda-tenda pendaki lainnya menjadi pemandangan di pagi yang cerah itu. Pendakian menuju Puncak Pangrango (3.019 m.dpl)  rencana dimulai kira-kira pukul 09.30. Tapi, terjadi sedikit trouble, dan kami pun harus melanjutkan perjalanan tanpa Ayu dan Viema.

Awal perjalanan yang menanjak, medan yang licin, serta kemampuan masing-masing anggota  yang berbeda mengakibatkan perjalanan kami terbagi menjadi 2 rombongan. Rombongan depan dengan Bang Ode (Lawalata IPB), Mbak Tika (Haihata Tazkia), sedangkan rombongan belakang dengan Bang Ocit. Kira-kira Pukul 16.00, rombongan depan sampai lebih dahulu di Puncak, dilanjutkan rombongan belakang.

Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh para Kartini, menggunakan kebaya dan jarik ala Kartini dan mengabadikan

momen itu di Mandalawangi ( padang Edelweis ). Jarak dari Puncak menuju Mandalawangi memang tidak cukup jauh,

hanya sekitar 5 menit saja. Sampai disana, banyak pendaki yang memandangi kami dengan ekspresi yang tampak heran dan

kagum,melihat wanita-wanita cantik berkostum kebaya berada di Puncak Pangrango. Pemandangan yang sangat jarang ditemui bukan? Sampai-sampai ada beberapa pendaki yang ingin berfoto bersama kami.

Beberapa kamera mulai dipasang di titik-titik strategis, dan kami pun mulai berpose. Bosan juga dengan hanya berpose,

akhirnya kortim mengusulkan agar kita membuat sebuah persembahan yang menarik yang nantinya akan dipertontonkan pada MG’ers lainnya. Maka, Incem pun menawarkan diri menjadi pembaca puisi “Mandalawangi- Pangrango” dan anggota yang lain memperagakan setiap baris yang terucap. Karena cuaca sudah mendung, maka kami pun segera packing.

Perjalanan turun menuju Kandang Badak  diselimuti oleh cuaca mendung. Sampai di Kandang Badak, kami

makan siang, sedangkan yang lain (khususnya yang tidak muncak) membereskan tenda. Setelah itu perjalanan turun kami

lanjutkan kembali. Medan yang licin dan berlumpur membuat perjalanan kami cukup lambat. Satu per satu dari kami banyak yang tergelincir dan jatuh. Walaupun begitu, semangat Kartini tidak serta merta hilang dari diri kami, meski langkah sudah semakin

berat tapi kami tetap gigih untuk terus berjalan menuju tempat tujuan. Dan akhirnya sampai juga di pos pemeriksaan simaksi pada pukul 21.00.

Sampai di Basecamp, Kortim segera memastikan semua anggota lengkap, dan Ayu segera mencari angkutan menuju daerah Sentul, Bogor, tempat kontrakan teman Mbak Tika, yang rencana akan menjadi tempat istirahat kita malam itu. Satu pickup untuk mengangkut carrier dan satu angkutan lagi untuk kami. Perjalanan ditempuh kurang lebih 2 jam. Selama perjalanan, hampir

semua orang tidur kecuali sopir dan Incem yang memang sengaja tidak tidur agar tidak muntah, namun akhirnya muntah juga di punggung Samid (orang yang duduk tepat di sebelahnya).

Hari terakhir di Bogor kami habiskan dengan bercanda dan mengobrol dengan teman-teman dari Tazkia. Sebagian yang lain,

bersiap packing sambil membersihkan dan menjemur beberapa barang yang basah. Evaluasi yang menjadi agenda wajib tiap kegiatan kami lakukan pada siang harinya.

Untuk menuju Stasiun Pasar Senen, kami harus dua kali naik KRL. Kereta tujuan Yogyakarta hanya ada pada pukul

21.00, sehingga kami harus menunggu di stasiun kurang lebih 2 jam. Waktu yang cukup luang ini, banyak dimanfaatkan anggota

tim untuk berfoto, mengobrol atau sekedar tidur sejenak. Ada juga yang berkenalan dengan beberapa anak penjual kipas dan

koran bekas yang biasa mangkal di stasiun. Sampai akhirnya, kereta kami datang dan kami pun bersiap pulang ke Yogyakarta.

Kebersamaan ini membangun kemandirian, solidaritas antar anggota, mengontrol emosi pada kondisi yang serba tidak pasti, menyiapkan mental dan fisik yang lebih dari biasanya. Aktualisasi diri akan tercipta pada kondisi seperti ini. Perempuan memperoleh sarana untuk menciptakan eksistensi diri dan mengekspresikan gagasan. (oleh Iyut Purbasari, editor Fahmy)

Masa Tua Masih Masa yang Berapi-api

‘Masa muda adalah masa yang berapi-api’ begitu kata sang raja dangdut, Rhoma Irama. Puncak kejayaan manusia adalah masa muda. Salah satu kejayaan yang bisa terlihat adalah dari kekuatan yang dimiliki. Terlahir sebagai bayi yang belum bisa berbuat banyak kemudian mulai merangkak, belajar berdiri, kemudian berlari. Kemudian masa muda, masa puncak untuk tenaga yang dimiliki, masa ini dikatakan masa yang berapi-api. Setelah lanjut usia menjadi sulit berjalan, respons yang tidak secepat saat muda, dan akhirnya kemampuan menurun, jika digambarkan sebagai kurva, kurvanya akan seperti gunung, naik setelah mencapai puncak akan kembali turun.

salah satu senior mapagama

Namun begitu, masa senja tak menurunkan keuletan, bisa jadi keuletan semanin menjadi-jadi! Tua-tua keladi, semakin tua semangat semakin menjadi. Mungkin itu yang pantas untuk pendakian semeru MAPAGAMA oleh para generasi pendiri sampai generasi yang terbaru. Umur boleh lebih tapi akan semakin muda semangat dan keuletannya. Pendakian ini dilengkapi dengan puncak mahameru. Dengan rambut yang tak lagi hitam, yang memberikan tanda bahwa orang sudah tak muda lagi.

Kembali saat-saat 20 tahun lalu, pendakian ini memang dalam suasana nostalgis dan family gathering oleh keluarga MAPAGAMA. Memang tekad sejak dari perencanaan adalah menjadi orang tertinggi seJawa. Dan memang seperti celoteh biasa, saat itu. Setelah sampai di Ranu kumbolo sempat terengah-engah, “wah delok-delok sesok lah, nek kesele mari yo munggah sak tekane”, begitu kata sebagian senior. Tapi memang semangat masa muda yang berapi-api, di pagi hari saat ranu kumbolo diselimuti kabut kami yang masih tertidur rapi (para muda-mudi_red) terganggu dengan guyonan mas-mas dan mbak-mbak senior.  Ternyata kelelahan kemarin sore telah hilang bersama kabut pagi ini, berganti dengan hangatnya sinar mentari, semangat 20 tahun lalu! Packing dan cek kelengkapan pun dilakukan, kemudian segera menatap tanjakan cinta yang konon katanya cinta akan langgeng jika berhasil melewati tanjakan ini tanpa menoleh. Ya, tapi sebenarnya betapa indah ranu kumbolo dari tanjakan cinta, mungkin yang menoleh akan lebih mencintai ranu kumbolo dari pada yang lain. Kemudian oro-oro ombo, kali mati, arca pada, dilalui dengan semangat. Padahal saat itu hujan mengguyur seharian, tapi tak melunturkan semangat kami (para sesepuh_red).

Hari berikutnya, dini hari mulai pendakian ke mahameru! Setelah subuh kami berada di 3676 mdpl, puncak tertinggi gunung seJawa, sesaat kami menjadi orang tertinggi seJawa. Alhamdulillah cuaca sangat cerah, tapi kami tak bisa berlama-lama di puncak karena angin sangat kencang dan sangat menambah dinginnya pagi itu. Setelah berfoto-foto kemudian kami turun dengan target langsung menuju ranupane. Sempat berhenti di ranu kumbolo untuk makan siang, senyum kami disini dsambut oleh pelangi di atas danau ranu kumbolo. Setelah itu perjalanan dilanjutkan sampai ranu pane, sore saat itu menjadi penayambut di basecamp ranu pane.

Kurva yang seperti gunung itu bukan untuk semangat dan keuletan, hal ini terbukti disini. Bahwa usia tak menurunkan semangat untuk perpetualang, masih sama dengan 20 tahun yang lalu. Ketika masa muda yang menjadi kekuatan untuk berpetualang pun dengan saat ini, walaupun masa muda sudah lewat 20 tahun yang lalu tapi tak akan surut jiwanya. “masa tua masih masa yang berapi-api” begitu kata para senior MAPAGAMA. (ysr)

foto oleh agus satriawan

Naik gunung bawa GPS, apa perlu?

ilustrasi

Iseng-iseng saya membuka buku elektronik tentang GPS yang baru saya unduh siang hari tadi, karena memang berhubungan dengan tugas akhir saya, sekarang ini saya banyak bergaul dengan alat untuk mencari informasi lokasi ini.

Dengan segala kemudahan yang di tawarkan,  Global position system (GPS) memudahkan para penggunanya untuk sekedar mengetahui lokasi dirinya saat itu juga, menunjukan arah kemana si pengguna akan berjalan, atau sekedar mencari nilai ketinggian dari tempat yang ingin di ketahui.

secara sederhana GPS bisa di katakan Kompas, Peta, dan protaktor dalam satu alat, system yang di kembangkan oleh departemen pertahanan amerika serikat ini mampu menapilkan informasi yang di tampilkan oleh peta, mampu menunjukan arah bak kompas, dan mampu menskalakan peta layaknya protaktor.

Teringat waktu saya gladimula (diklatsar) dulu, saya di ajari bagaimana ilmu untuk memanfaatkan peta dan kompas, populernya IMPK atau Ilmu medan peta dan kompas. Berbekal peta rupa bumi Indonesia, sebuah kompas type bidik serta protaktor plastik sederhana, saya di ajarkan bagaimana melakukan resection, intersection, countouring dan modify resection. Istilah-istilah tadi mungkin tidak asing bagi para pendaki gunung yang sudah pernah belajar tentang IMPK.

Saat itu kebanyakan rekan sekelompok saya masih awam untuk Ilmu semacam ini, bahkan ada pula yang baru mengetahui protaktor dan baru pertama kali memegang kompas, aplikasi ilmu IMPK yang saya dapat kala itu lebih banyak saya gunakan saat berkegiatan di gunung, tidak hanya untuk menentukan titik dimana saya berdiri dalam peta, melainkan untuk mengtahui tempat tepat harus mendirikan tenda.

Berbeda saat gladimula, ketika saya mendaki guung merapi di medio 2009, saya memasukan GPS pada daftar alat yang saya bawa dari jogja, kala itu GPS pinjaman teman sengaja saya bawa mendaki dengan tujuan menguji efektifitas penggunaan  GPS dengan IMPK konvensional, kala itu saya hanya perlu menekan beberapa tombol di GPS merk Garmin yang saya bawa untuk mengetahui lokasi dimana saya berdiri, jauh lebih cepat dari teman saya yang menggunakan metode resection untuk mengetahui lokasi saat itu.

Selain itu saya juga mencoba merekam jejak perjalanan dengan menggunakan menu yang ada, secara kontinyu alat ini merekam jejak perjalanan saya dan bisa saya saksikan di layar monokrom GPS bertipe etrek ini. Sepintas sama seperti saya menggambarkan garis jalur yang saya lalui dip eta, akan tetapi rekaman alat ini lebih enak di lihat dan bisa ubah skalanya sesuai kebutuhan.

Untuk masalah efisiensi dan efektifitas, GPS lebih unggul di banding denga IMPK biasa, akan tetapi masalah timbul kala itu, batterai GPS yang saya bawa ternyata tidak bisa bertahan lebih dari 2 hari, tepat di hari ketiga GPS yang saya bawa sudah tdak bisa di gunakan lagi karena habis batterai. Sedangkan teman saya masih bisa melakukan ploting lokasi di peta.

Dua contoh kasus yang saya alami di atas setidaknya meberikan perbandingan antara menggunkan GPS dengan menggunakan IMPK , GPS boleh unggul untuk segi efektifitas dan efisiensinya, akan tetapi IMPK juga menjad ilmu wajib bagi para pendaki gunung dengan segala resiko yang bisa timbul. Banyak kasus pendaki gunung yang disorientasi medan karena tidak menguasai ilmu ini.

Mendaki gunung dengan atau tanpa menggunakan GPS memang menjadi sebuah subjektifitas, ketika sudah bisa di gantikan dengan peta dan kompas, GPS sudah di rasa tidak perlu lagi. Akan tetapi menggunakan GPS juga bisa menghemat banyak waktu saat ploting lokasi serta banyak informasi tambahan yang bisa kita dapatkan dengan menggunakan GPS.